Rabu, 03/06/2009 10:47 WIB
Kelantan Klaim Sengaja Lepaskan Manohara Sebab Tak Mau Malu
Amanda Ferdina - detikNews
Foto Terkait
Manohara Pulang ke Jakarta Jakarta - Pengacara keluarga Manohara Odelia Pinot membantah pernyataan kubu Kesultanan Kelantan Malaysia yang menyatakan mereka sengaja melepaskan model cantik itu untuk pulang ke Jakarta. Klaim itu dilakukan agar suami Manohara, putra Sultan Kelantan Tengku Muhammad Fakhry tidak malu.
"Itu supaya mereka nggak malu. Yang benar memang Mano ingin balik, bukan dilepasin," kata pengacara keluarga Manohara, Yuri Andre Darma dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (3/5/2009).
Yuri menegaskan, keluarga tidak pernah memaksa Manohara untuk meninggalkan suaminya. Manohara sendiri yang ingin kembali ke Indonesia karena sering disiksa Fakhry.
"Mano bilang saya nggak bahagia, jadi itu keinginan Mano untuk pulang. Bukan kemauan mereka melepaskan," kata Yuri.
Rekan dekat Fakhry, Mohd Soberi Shafii, dalam wawancara dengan detikcom, Senin (1/6/2009) lalu menyatakan Manohara memang sengaja dilepas oleh suaminya. "Dia tidak kabur, kemarin itu memang dilepas. Kalau dia minta, pasti Fakhry memberi izin," kata Soberi. Ngobrolin model cantik Manohara Odelia Pinot? Gabung di sini. (iy/nrl)
Rabu, 03 Juni 2009
Detik Detik Pembebasan Manohara Versi KBRI Singapura
Rabu, 03/06/2009 11:35 WIB
Detik-detik Pembebasan Manohara Versi KBRI Singapura
Iin Yumiyanti - detikNews
toughlane Video Terkait
Manohara Kabur dari Fakhry
Foto Terkait
Manohara Pulang ke Jakarta Jakarta - Pembebasan Manohara Odelia Pinot dari tangan suaminya, Pangeran Kesultanan Kelantan, bak drama menegangkan. KBRI di Singapura memberikan kesaksian atas detik-detik menegangkan pembebasan yang berlangsung sekitar 5 jam tersebut.
Kesaksian KBRI Singapura disampaikan Pejabat Protokol Konselor KBRI Singapura Achmad Djatmiko dalam tulisan yang diposting di facebooknya. Dalam tulisan itu, Djatmiko mengurai detail keterlibatan KBRI Singapura dalam pembebasan Manohara.
Berikut kesaksian Pejabat Protokol Konselor KBRI Singapura Achmad Djatmiko dalam tulisan yang diposting di facebooknya:
MANOHARA OH…. MANOHARA.!
Today at 12:03pm
Pada hari Minggu (31 Mei 2009), sekitar pukul 02.15 dini hari, saya mendapat telpon dari Fahmi, rekan yunior saya di fungsi Konsuler, yang memberitahukan bahwa ia tengah berada di hotel Cross Royal Plaza, Singapura, sehubungan dengan diterimanya info dari staf kedubes AS di Singapura mengenai adanya warga Indonesia yang tengah dalam kasus (penganiayaan oleh suami) dan sedang ditangani polisi Singapura. Fahmi bersama 2 orang teman lainnya (semuanya staf KBRI Singapura) segera meluncur ke hotel dimaksud dan lalu menghubungi pihak kepolisian Singapura untuk mengkonfirmasi kebenaran berita tersebut.
Sesampai di hotel, menurut penuturannya, sudah ada dua orang staf kedubes AS di sana, beberapa polisi Singapura, dan juga 'warga negara' Indonesia yang bermasalah tersebut, yang ternyata bernama Manohara. Polisi berjaga-jaga di depan pintu sebuah kamar di lantai 3 hotel tersebut, sementara Manohara sendiri ada di dalamnya, bersama ibunya dan juga beberapa orang lainnya. Dikabarkan bahwa staf dari kedubes Malaysia di Singapura sempat juga mencoba untuk menemui Manohara, tetapi tidak diijinkan oleh polisi Singapura. Yang diijinkan hanya orang-orang tertentu, yaitu dari Kedubes AS dan dari KBRI serta beberapa orang terkait. Keterlibatan kedubes AS di situ, saya duga, karena ayahnya Manohara adalah warga negara Amerika Serikat.
Fahmi juga menceritakan bahwa Manohara melaporkan kepada polisi atas penganiayaan yang dilakukan suami dan pihak keluarganya. Ia berada di Singapura bersama suami dan pihak keluarga suaminya untuk menjenguk ayah mertuanya yang sedang sakit jantung di rumah sakit Singapura. Kesempatan itu digunakannya untuk bertemu dengan ibunya (yang secara diam-diam datang dari Jakarta) dan untuk 'melarikan diri' ke Jakarta.
Jadi, keadaannya saat itu adalah, bahwa Manohara sudah berada di bawah perlindungan polisi Singapura, dan diinvestigasi mengenai kasusnya. Terhadap keinginannya untuk 'melarikan diri' ke Jakarta, tentunya tidak akan jadi masalah bagi polisi Singapura apabila memang kasusnya tidak menyangkut kepentingan Singapura. Hanya saja, Manohara tidak membawa kelengkapan dokumen perjalanan (paspor), yang menurut penuturannya, disimpan oleh suaminya. Masalah penting yang harus diselesaikan oleh kami dari KBRI Singapura, karenanya, adalah menyangkut travel dokumen Manohara. Sesuai arahan Duta Besar dan setelah berkonsultasi dengan Jakarta, kami mendapatkan perintah untuk menerbitkan SPLP (Surat Perjalanan Laksana Paspor) atas nama Manohara agar ia dapat menuju ke Jakarta dengan selamat.
Setelah mendapat penjelasan mengenai situasi saat itu, saya pun 'merapat' menuju hotel tersebut sekitar 02.45 dini hari. Sesampai di hotel, saya tidak langsung dibolehkan menuju lantai 3 yang liftnya ternyata diblokir oleh pihak hotel. Setelah saya tunjukkan kartu identitas saya, seorang petugas hotel mengantarkan saya naik dengan lift ke lantai 3. Beberapa orang ada di depan kamar Manohara, termasuk polisi, dari kedubes AS dan beberapa orang lainnya saat saya sampai di sana. Kami pun segera berkoordinasi mengenai langkah selanjutnya dalam menangani kasus Manohara. Ada 3 hal yang perlu dilakukan:
1) Penerbitan SPLP, yang tentunya memerlukan foto dan informasi/keterangan diri. Karena keadaan darurat, salah seorang dari kami mengambil foto Manohara dengan menggunakan hand phone, lalu file-nya dibawa ke kantor untuk di-print dan diproses dengan segera, saat itu juga.
2) Pemesanan tiket. Manohara dan ibunya (Daisy Fajariani?) menginginkan terbang ke Jakarta secepatnya, dengan pesawat paling pagi, pada kesempatan pertama. Kami segera menghubungi pihak airport, dan akhirnya didapatkan bahwa pesawat paling pagi adalah Garuda 823 pukul 07.05 dari Singapura (pukul 06.05 WIB).
3) Perlu ada pengawalan oleh salah satu dari kami hingga Manohara dan ibunya sampai di Jakarta. Demikian pula, perlu ada penjemputan oleh pihak Deplu Jakarta, saat tiba di Cengkareng. Duta Besar kami, yang memang sangat intens mengikut perkembangan kasus ini sampai detail, memberikan persetujuan terhadap rencana ini. Kemudian beliau menginstruksikan salah satu dari kami (Fahmi) untuk mengawal ke Jakarta. Pada saat yang bersamaan, saya pun berkoordinasi dengan Deplu mengenai penjemputan di Cengkareng. Semua ini perlu dilakukan mengingat sensitivitas kasus ini di mata publik.
Suasana cukup tegang namun tetap terkendali karena adanya komunikasi yang harmonis baik di antara kami maupun dengan pihak-pihak terkait, yaitu kepolisian Singapura dan Kedubes AS di Singapura. Ketegangan masih kami rasakan saat meninggalkan hotel menuju airport sekitar pukul 04.30 waktu setempat dan demikian halnya setelah sampai dan selama berada di airport. Sambil menunggu waktu check-in tiba, kami sempat mencoba untuk 'santai' minum teh dan berbincang-bincang. Baik Manohara maupun ibunya terlihat bahagia, meskipun masih menyisakan ketegangan di wajahnya masing-masing.
Dalam perbincangan dengan kami, ibunya Manohara bercerita mengenai berbagai upaya yang telah dilakukannya untuk bisa berkumpul kembali dengan anaknya. Antara lain diceritakan bahwa ia pun sempat menelpon salah seorang kenalannya yang sebelumnya pernah bekerja di KBRI Singapura untuk menanyakan kemungkinan KBRI Singapura bisa membantunya untuk 'melarikan' Manohara dari Singapura. Menurutnya, sang kenalan tersebut mengatakan bahwa kemungkinan KBRI Singapura tidak akan bisa memberikan bantuan mengingat saat itu hari libur, biasanya 'tidak ada orang', sehingga baru hari Senin bisa dilayani. Penuturan ibunya Manohara jelas sekali, bahwa pernyataan kemungkinan KBRI Singapura tidak bisa memberikan bantuan adalah berasal dari kenalannya (yang sudah tidak lagi bekerja di KBRI Singapura dan kini berada di Jakarta), dan bukan dari pihak resmi KBRI Singapura. Kenyataannya, saat itu kami berada bersama-sama dengannya sehingga 'persepsi' kami tidak memberi bantuan adalah gugur dengan sendirinya.
Ketika saat check-in tiba, kami pun berpisah, saling bersalaman melepas kepergian seorang anak manusia dan ibunya yang tengah menyelesaikan masalah. Bersama mereka ada dua orang wartawan (yang sejak beberapa hari sebelumnya memang sudah berada di Singapura untuk memantau kemungkinan terjadinya kasus ini, saluut..!). Namun, segera setelah mereka masuk lewat pintu airport, kami sempat kembali tegang, karena terlihat dari luar, petugas imigrasi terkesan sedang menanyai Manohara cukup lama. Hal ini wajar karena ia menggunakan SPLP, bukan paspor. Terhadap hal ini, teman dari imigrasi KBRI Singapura, segera bertindak, menghubungi pihak imigrasi Singapura untuk menyelesaikan kasusnya, hingga terlihat mereka pun dapat melaluinya dengan lancar.
Setelah melalui petugas imigrasi, mereka pun tersenyum dan kembali melambaikan tangan kepada kami yang berada di luar. Kami balas lambaian tangan mereka hingga mereka pun hilang dari pandangan. Kami semua kemudian menarik nafas lega dan saling bersalaman.
Di antara 'rombongan' kami ada seorang laki setengah baya yang selalu diam dan kelihatan paling tegang. Ia biasa disapa dengan panggilan 'Datuk', yang ternyata masih memiliki hubungan kerabat dengan pihak keluarga suami Manohara. Pak Datuk ini memiliki andil besar dalam 'menyelamatkan' Manohara, karena selama ini ikut membela dan memperjuangkan kebebasan Manohara.
"Alhamdulillaah Datuk, sudah selesai dan mudah-mudahan mereka sampai dengan selamat di Jakarta," kataku. Ia lalu menatapku sambil tersenyum penuh kepuasan. Bahkan kami pun berangkulan sebagai rasa syukur bahwa 'drama' Manohara telah dapat diselesaikan.
Datuk hanya bicara, 'Life is too short..!' Ketika saya bertanya lebih jauh mengenai hal itu, ia pun menjelaskan bahwa hidup kita di dunia ini terlalu pendek sehingga harus kita isi dengan hal-hal yang baik. Saya bereaksi, "Woow.. Datuk, suatu prinsip hidup yang baik sekali! Semoga Allah memberikan balasannya kepada Datuk," kataku, yang kemudian dijawabnya dengan "amin…".
Kami pun berpisah sambil tak lupa ia ingatkan agar jangan sungkan-sungkan untuk menghubunginya bila saya kebetulan berkunjung ke Kuala Lumpur. Saya hanya bilang, "Insya Allah.. Datuk".
Dengan penuh kelegaan, sekitar pukul 07.00 pagi, kami semua berpisah menuju tempat parkir masing-masing. Dengan mata yang terasa berat karena belum tidur semalaman, dengan perlahan saya kendarai mobil pulang ke rumah sambil hati bartanya-tanya, "Ada hikmah apa lagi dari semua ini?"
Hanya Allah yang tahu semua yang terjadi pada umatnya. Kadang terlihat nyata, kadang hanya tersamar. Tetapi begitulah dinamika kehidupan saat bertugas di Perwakilan, KBRI Singapura. Wallahualam…!
Singapura, 2 Juni 2009
Achmad Djatmiko
Ngobrolin model cantik Manohara Odelia Pinot? Gabung di sini. (iy/nrl)
Detik-detik Pembebasan Manohara Versi KBRI Singapura
Iin Yumiyanti - detikNews
toughlane Video Terkait
Manohara Kabur dari Fakhry
Foto Terkait
Manohara Pulang ke Jakarta Jakarta - Pembebasan Manohara Odelia Pinot dari tangan suaminya, Pangeran Kesultanan Kelantan, bak drama menegangkan. KBRI di Singapura memberikan kesaksian atas detik-detik menegangkan pembebasan yang berlangsung sekitar 5 jam tersebut.
Kesaksian KBRI Singapura disampaikan Pejabat Protokol Konselor KBRI Singapura Achmad Djatmiko dalam tulisan yang diposting di facebooknya. Dalam tulisan itu, Djatmiko mengurai detail keterlibatan KBRI Singapura dalam pembebasan Manohara.
Berikut kesaksian Pejabat Protokol Konselor KBRI Singapura Achmad Djatmiko dalam tulisan yang diposting di facebooknya:
MANOHARA OH…. MANOHARA.!
Today at 12:03pm
Pada hari Minggu (31 Mei 2009), sekitar pukul 02.15 dini hari, saya mendapat telpon dari Fahmi, rekan yunior saya di fungsi Konsuler, yang memberitahukan bahwa ia tengah berada di hotel Cross Royal Plaza, Singapura, sehubungan dengan diterimanya info dari staf kedubes AS di Singapura mengenai adanya warga Indonesia yang tengah dalam kasus (penganiayaan oleh suami) dan sedang ditangani polisi Singapura. Fahmi bersama 2 orang teman lainnya (semuanya staf KBRI Singapura) segera meluncur ke hotel dimaksud dan lalu menghubungi pihak kepolisian Singapura untuk mengkonfirmasi kebenaran berita tersebut.
Sesampai di hotel, menurut penuturannya, sudah ada dua orang staf kedubes AS di sana, beberapa polisi Singapura, dan juga 'warga negara' Indonesia yang bermasalah tersebut, yang ternyata bernama Manohara. Polisi berjaga-jaga di depan pintu sebuah kamar di lantai 3 hotel tersebut, sementara Manohara sendiri ada di dalamnya, bersama ibunya dan juga beberapa orang lainnya. Dikabarkan bahwa staf dari kedubes Malaysia di Singapura sempat juga mencoba untuk menemui Manohara, tetapi tidak diijinkan oleh polisi Singapura. Yang diijinkan hanya orang-orang tertentu, yaitu dari Kedubes AS dan dari KBRI serta beberapa orang terkait. Keterlibatan kedubes AS di situ, saya duga, karena ayahnya Manohara adalah warga negara Amerika Serikat.
Fahmi juga menceritakan bahwa Manohara melaporkan kepada polisi atas penganiayaan yang dilakukan suami dan pihak keluarganya. Ia berada di Singapura bersama suami dan pihak keluarga suaminya untuk menjenguk ayah mertuanya yang sedang sakit jantung di rumah sakit Singapura. Kesempatan itu digunakannya untuk bertemu dengan ibunya (yang secara diam-diam datang dari Jakarta) dan untuk 'melarikan diri' ke Jakarta.
Jadi, keadaannya saat itu adalah, bahwa Manohara sudah berada di bawah perlindungan polisi Singapura, dan diinvestigasi mengenai kasusnya. Terhadap keinginannya untuk 'melarikan diri' ke Jakarta, tentunya tidak akan jadi masalah bagi polisi Singapura apabila memang kasusnya tidak menyangkut kepentingan Singapura. Hanya saja, Manohara tidak membawa kelengkapan dokumen perjalanan (paspor), yang menurut penuturannya, disimpan oleh suaminya. Masalah penting yang harus diselesaikan oleh kami dari KBRI Singapura, karenanya, adalah menyangkut travel dokumen Manohara. Sesuai arahan Duta Besar dan setelah berkonsultasi dengan Jakarta, kami mendapatkan perintah untuk menerbitkan SPLP (Surat Perjalanan Laksana Paspor) atas nama Manohara agar ia dapat menuju ke Jakarta dengan selamat.
Setelah mendapat penjelasan mengenai situasi saat itu, saya pun 'merapat' menuju hotel tersebut sekitar 02.45 dini hari. Sesampai di hotel, saya tidak langsung dibolehkan menuju lantai 3 yang liftnya ternyata diblokir oleh pihak hotel. Setelah saya tunjukkan kartu identitas saya, seorang petugas hotel mengantarkan saya naik dengan lift ke lantai 3. Beberapa orang ada di depan kamar Manohara, termasuk polisi, dari kedubes AS dan beberapa orang lainnya saat saya sampai di sana. Kami pun segera berkoordinasi mengenai langkah selanjutnya dalam menangani kasus Manohara. Ada 3 hal yang perlu dilakukan:
1) Penerbitan SPLP, yang tentunya memerlukan foto dan informasi/keterangan diri. Karena keadaan darurat, salah seorang dari kami mengambil foto Manohara dengan menggunakan hand phone, lalu file-nya dibawa ke kantor untuk di-print dan diproses dengan segera, saat itu juga.
2) Pemesanan tiket. Manohara dan ibunya (Daisy Fajariani?) menginginkan terbang ke Jakarta secepatnya, dengan pesawat paling pagi, pada kesempatan pertama. Kami segera menghubungi pihak airport, dan akhirnya didapatkan bahwa pesawat paling pagi adalah Garuda 823 pukul 07.05 dari Singapura (pukul 06.05 WIB).
3) Perlu ada pengawalan oleh salah satu dari kami hingga Manohara dan ibunya sampai di Jakarta. Demikian pula, perlu ada penjemputan oleh pihak Deplu Jakarta, saat tiba di Cengkareng. Duta Besar kami, yang memang sangat intens mengikut perkembangan kasus ini sampai detail, memberikan persetujuan terhadap rencana ini. Kemudian beliau menginstruksikan salah satu dari kami (Fahmi) untuk mengawal ke Jakarta. Pada saat yang bersamaan, saya pun berkoordinasi dengan Deplu mengenai penjemputan di Cengkareng. Semua ini perlu dilakukan mengingat sensitivitas kasus ini di mata publik.
Suasana cukup tegang namun tetap terkendali karena adanya komunikasi yang harmonis baik di antara kami maupun dengan pihak-pihak terkait, yaitu kepolisian Singapura dan Kedubes AS di Singapura. Ketegangan masih kami rasakan saat meninggalkan hotel menuju airport sekitar pukul 04.30 waktu setempat dan demikian halnya setelah sampai dan selama berada di airport. Sambil menunggu waktu check-in tiba, kami sempat mencoba untuk 'santai' minum teh dan berbincang-bincang. Baik Manohara maupun ibunya terlihat bahagia, meskipun masih menyisakan ketegangan di wajahnya masing-masing.
Dalam perbincangan dengan kami, ibunya Manohara bercerita mengenai berbagai upaya yang telah dilakukannya untuk bisa berkumpul kembali dengan anaknya. Antara lain diceritakan bahwa ia pun sempat menelpon salah seorang kenalannya yang sebelumnya pernah bekerja di KBRI Singapura untuk menanyakan kemungkinan KBRI Singapura bisa membantunya untuk 'melarikan' Manohara dari Singapura. Menurutnya, sang kenalan tersebut mengatakan bahwa kemungkinan KBRI Singapura tidak akan bisa memberikan bantuan mengingat saat itu hari libur, biasanya 'tidak ada orang', sehingga baru hari Senin bisa dilayani. Penuturan ibunya Manohara jelas sekali, bahwa pernyataan kemungkinan KBRI Singapura tidak bisa memberikan bantuan adalah berasal dari kenalannya (yang sudah tidak lagi bekerja di KBRI Singapura dan kini berada di Jakarta), dan bukan dari pihak resmi KBRI Singapura. Kenyataannya, saat itu kami berada bersama-sama dengannya sehingga 'persepsi' kami tidak memberi bantuan adalah gugur dengan sendirinya.
Ketika saat check-in tiba, kami pun berpisah, saling bersalaman melepas kepergian seorang anak manusia dan ibunya yang tengah menyelesaikan masalah. Bersama mereka ada dua orang wartawan (yang sejak beberapa hari sebelumnya memang sudah berada di Singapura untuk memantau kemungkinan terjadinya kasus ini, saluut..!). Namun, segera setelah mereka masuk lewat pintu airport, kami sempat kembali tegang, karena terlihat dari luar, petugas imigrasi terkesan sedang menanyai Manohara cukup lama. Hal ini wajar karena ia menggunakan SPLP, bukan paspor. Terhadap hal ini, teman dari imigrasi KBRI Singapura, segera bertindak, menghubungi pihak imigrasi Singapura untuk menyelesaikan kasusnya, hingga terlihat mereka pun dapat melaluinya dengan lancar.
Setelah melalui petugas imigrasi, mereka pun tersenyum dan kembali melambaikan tangan kepada kami yang berada di luar. Kami balas lambaian tangan mereka hingga mereka pun hilang dari pandangan. Kami semua kemudian menarik nafas lega dan saling bersalaman.
Di antara 'rombongan' kami ada seorang laki setengah baya yang selalu diam dan kelihatan paling tegang. Ia biasa disapa dengan panggilan 'Datuk', yang ternyata masih memiliki hubungan kerabat dengan pihak keluarga suami Manohara. Pak Datuk ini memiliki andil besar dalam 'menyelamatkan' Manohara, karena selama ini ikut membela dan memperjuangkan kebebasan Manohara.
"Alhamdulillaah Datuk, sudah selesai dan mudah-mudahan mereka sampai dengan selamat di Jakarta," kataku. Ia lalu menatapku sambil tersenyum penuh kepuasan. Bahkan kami pun berangkulan sebagai rasa syukur bahwa 'drama' Manohara telah dapat diselesaikan.
Datuk hanya bicara, 'Life is too short..!' Ketika saya bertanya lebih jauh mengenai hal itu, ia pun menjelaskan bahwa hidup kita di dunia ini terlalu pendek sehingga harus kita isi dengan hal-hal yang baik. Saya bereaksi, "Woow.. Datuk, suatu prinsip hidup yang baik sekali! Semoga Allah memberikan balasannya kepada Datuk," kataku, yang kemudian dijawabnya dengan "amin…".
Kami pun berpisah sambil tak lupa ia ingatkan agar jangan sungkan-sungkan untuk menghubunginya bila saya kebetulan berkunjung ke Kuala Lumpur. Saya hanya bilang, "Insya Allah.. Datuk".
Dengan penuh kelegaan, sekitar pukul 07.00 pagi, kami semua berpisah menuju tempat parkir masing-masing. Dengan mata yang terasa berat karena belum tidur semalaman, dengan perlahan saya kendarai mobil pulang ke rumah sambil hati bartanya-tanya, "Ada hikmah apa lagi dari semua ini?"
Hanya Allah yang tahu semua yang terjadi pada umatnya. Kadang terlihat nyata, kadang hanya tersamar. Tetapi begitulah dinamika kehidupan saat bertugas di Perwakilan, KBRI Singapura. Wallahualam…!
Singapura, 2 Juni 2009
Achmad Djatmiko
Ngobrolin model cantik Manohara Odelia Pinot? Gabung di sini. (iy/nrl)
KBRI Singapura Beri Bukti Terlibat Penuh Bebaskan Manohara
Rabu, 03/06/2009 12:23 WIB
KBRI Singapura Beri Bukti Terlibat Penuh Bebaskan Manohara
Indra Subagja - detikNews
Jakarta - Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura terlibat penuh dalam upaya pembebasan Manohara. Kronologis detik-detik pembebasan Manohara disampaikan staf kedubes yang terlibat langsung. Bahkan ikut mengantarkan ke Jakarta.
Berikut kronologi yang disampaikan Staf KBRI Singapura Fahmi Aris Innayah, dalam surat elektronik yang diterima detikcom, Selasa (3/6/2009).
"Setelah mendapat informasi dari Police Tanglin Station mengenai permasalahan yang dihadapi Manohara di Hotel Royal Plaza pada pukul 24.00, tim KBRI segera menuju hotel dimaksud dan melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian Singapura serta staf kedutaan besar AS yang juga berada di tempat kejadian," jelas Fahmi.
Lebih lanjut Fahmi menjelaskan kronologi kesempatan pertemuan dengan Manohara dan ibunya, hingga Manohara bisa kembali ke Indonesia pada Minggu 31 Mei 2009.
Pertama, KBRI menyiapkan dokumen perjalanan Manohara berupa SPLP (Surat Perjalanan Laksana Pasport) mengingat yang bersangkutan tidak membawa dokumen perjalanan (pasport). Sekitar pukul 02.30, staf Imigrasi KBRI Singapura telah melakukan pembuatan SPLP tersebut. Dalam proses pembuatan SPLP ini, saudara Manohara hanya menunggu di kamar hotelnya dan staf KBRI yang mengurus segala persyaratan, termasuk dengan membawa kamera untuk pembuatan foto di tempat tersebut.
Kedua, KBRI melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian Singapura untuk menjamin kelancaran dan keamaman keberangkatan Manohara dan ibunya, dari hotel menuju ke Bandara Changi. Dalam perjalanan tersebut, Fahmi berada satu mobil dengan Manohara dan ibunya serta staf kedubes AS. Sementara itu, 4 (empat) orang staf KBRI lainnya mengikuti rombongan dengan kendaraan lain.
Ketiga, KBRI Singapura juga segera melakukan koordinasi dengan aparat imigrasi Singapura untuk meyakinkan agar proses penanganan keimigrasian di Changi dapat dilakukan secara lancar. Upaya ini perlu dilakukan mengingat Manohara tidak menggunakan dokumen perjalanan biasa (pasport), tetapi menggunakan SPLP.
Keempat, setelah tiba di airport sekitar pukul 05.00, kami dari KBRI Singapura langsung mengurus tiket bagi keberangkatan Manohara dan rombongan menuju Jakarta dengan menggunakan pesawat pertama. Berkat kerjasama yang baik antara KBRI dengan maskapai penerbangan, akhirnya dalam waktu yang relatif singkat diperoleh tiket dari Garuda untuk penerbangan pukul 07.05 (waktu Singapura).
Kelima, sesuai instruksi Duta Besar dalam rangka meyakinkan semua proses kepulangan berjalan dengan lancar, saya diperintahkan untuk ikut mendampingi Manohara dan rombongan menuju ke Jakarta. Dalam kaitan ini, Direktur Pelindungan WNI dan BHI, Departemen Luar Negeri Teguh Wardoyo juga ikut menyambut di Bandara Soekarno-Hatta.
"Dari berbagai langkah yang saya sebutkan di atas, jelas bahwa adanya pernyataan bahwa KBRI Singapura tidak berbuat sesuatu untuk membantu Manohara merupakan pernyataan yang tidak berdasar," tambahnya.
Fahmi menyatakan, apa yang KBRI Singapura lakukan merupakan wujud nyata dari upaya perlindungan yang diberikan kepada warga negara Indonesia yang membutuhkan.
"Penjelasan tersebut juga kami maksudkan untuk meluruskan pemberitaan bahwa KBRI Singapura tidak dapat berbuat sesuatu karena hari libur. Dari penjelasan di atas, saya berharap masyarakat Indonesia dapat memperoleh gambaran secara jelas mengenai langkah-langkah yang dilakukan KBRI Singapura dalam membantu kepulangan Manohara ke Indonesia," tutup Fahmi.
KBRI Singapura Beri Bukti Terlibat Penuh Bebaskan Manohara
Indra Subagja - detikNews
Jakarta - Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura terlibat penuh dalam upaya pembebasan Manohara. Kronologis detik-detik pembebasan Manohara disampaikan staf kedubes yang terlibat langsung. Bahkan ikut mengantarkan ke Jakarta.
Berikut kronologi yang disampaikan Staf KBRI Singapura Fahmi Aris Innayah, dalam surat elektronik yang diterima detikcom, Selasa (3/6/2009).
"Setelah mendapat informasi dari Police Tanglin Station mengenai permasalahan yang dihadapi Manohara di Hotel Royal Plaza pada pukul 24.00, tim KBRI segera menuju hotel dimaksud dan melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian Singapura serta staf kedutaan besar AS yang juga berada di tempat kejadian," jelas Fahmi.
Lebih lanjut Fahmi menjelaskan kronologi kesempatan pertemuan dengan Manohara dan ibunya, hingga Manohara bisa kembali ke Indonesia pada Minggu 31 Mei 2009.
Pertama, KBRI menyiapkan dokumen perjalanan Manohara berupa SPLP (Surat Perjalanan Laksana Pasport) mengingat yang bersangkutan tidak membawa dokumen perjalanan (pasport). Sekitar pukul 02.30, staf Imigrasi KBRI Singapura telah melakukan pembuatan SPLP tersebut. Dalam proses pembuatan SPLP ini, saudara Manohara hanya menunggu di kamar hotelnya dan staf KBRI yang mengurus segala persyaratan, termasuk dengan membawa kamera untuk pembuatan foto di tempat tersebut.
Kedua, KBRI melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian Singapura untuk menjamin kelancaran dan keamaman keberangkatan Manohara dan ibunya, dari hotel menuju ke Bandara Changi. Dalam perjalanan tersebut, Fahmi berada satu mobil dengan Manohara dan ibunya serta staf kedubes AS. Sementara itu, 4 (empat) orang staf KBRI lainnya mengikuti rombongan dengan kendaraan lain.
Ketiga, KBRI Singapura juga segera melakukan koordinasi dengan aparat imigrasi Singapura untuk meyakinkan agar proses penanganan keimigrasian di Changi dapat dilakukan secara lancar. Upaya ini perlu dilakukan mengingat Manohara tidak menggunakan dokumen perjalanan biasa (pasport), tetapi menggunakan SPLP.
Keempat, setelah tiba di airport sekitar pukul 05.00, kami dari KBRI Singapura langsung mengurus tiket bagi keberangkatan Manohara dan rombongan menuju Jakarta dengan menggunakan pesawat pertama. Berkat kerjasama yang baik antara KBRI dengan maskapai penerbangan, akhirnya dalam waktu yang relatif singkat diperoleh tiket dari Garuda untuk penerbangan pukul 07.05 (waktu Singapura).
Kelima, sesuai instruksi Duta Besar dalam rangka meyakinkan semua proses kepulangan berjalan dengan lancar, saya diperintahkan untuk ikut mendampingi Manohara dan rombongan menuju ke Jakarta. Dalam kaitan ini, Direktur Pelindungan WNI dan BHI, Departemen Luar Negeri Teguh Wardoyo juga ikut menyambut di Bandara Soekarno-Hatta.
"Dari berbagai langkah yang saya sebutkan di atas, jelas bahwa adanya pernyataan bahwa KBRI Singapura tidak berbuat sesuatu untuk membantu Manohara merupakan pernyataan yang tidak berdasar," tambahnya.
Fahmi menyatakan, apa yang KBRI Singapura lakukan merupakan wujud nyata dari upaya perlindungan yang diberikan kepada warga negara Indonesia yang membutuhkan.
"Penjelasan tersebut juga kami maksudkan untuk meluruskan pemberitaan bahwa KBRI Singapura tidak dapat berbuat sesuatu karena hari libur. Dari penjelasan di atas, saya berharap masyarakat Indonesia dapat memperoleh gambaran secara jelas mengenai langkah-langkah yang dilakukan KBRI Singapura dalam membantu kepulangan Manohara ke Indonesia," tutup Fahmi.
Din Syamsuddin : Jangan Jadikan Kasus Manohara Sebagai Isu Nasionalisme
Rabu, 03/06/2009 14:50 WIB
Din Syamsuddin: Jangan Jadikan Kasus Manohara Sebagai Isu Nasionalisme
Pebriansyah Ariefana - detikNews
Jakarta - Pemberitaan kasus Manohara Odelia Pinot dianggap sudah berlebihan. Untuk itu kasus Manohara diminta agar tidak dijadikan sebagai permasalahan bangsa, apalagi isunya dibawa ke isu nasionalisme.
"Saya imbau masalah ini jangan dibawa ke masalah bangsa. Jangan terlalu dibesarkan isunya itu jadi isu nasionalisme," ujar Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsudin, di Jakarta Theatre, Jl MH Thmarin, Jakarta Pusat, Rabu (3/6/2009).
Din juga berharap agar pemberitaan Manohara tidak menutup pemberitaan soal Pemilu Presiden. Pemberitaan soal kampanye 3 pasangan capres-cawapres dinilai lebih diperlukan.
"Jangan sampai kasus ini menutup pemberitaan kampanye Pilpers. Karena kita juga harus mengetahui wacana apa saja yang diberikan capres dan cawapres," kata Din.
Din melanjutkan, dirinya pernah diminta tolong oleh Ibu Manohara terkait peristiwa yang dialami putrinya. Namun setelah mendapatkan informasi yang utuh soal kasus tersebut, Din menolaknya.
"Begitu saya dengar ternyata itu masalah antar suami-istri. Jadi seharusnya diselesaikan antara keluarga dengan melalui mediasi," imbuh Din.
Din menambahkan, dirinya mendapatkan kabar dari Duta Besar Indonesia Untuk Malaysia, Da'i Bachtiar, mengenai kasus ini. Kasus ini, kata Din, cukup rumit meski demikian Manohara tetap disarankan untuk mengadukan kasus ini ke pihak yang berwajib di Malaysia.
"Saya dengar dari Pak Dubes masalah ini tidak gampang, ini masuk ke dalam ranah domestik. Tetapi kalau memang Manohara ingin mangajukan secara hukum, bagus," tambah Din.
Selain itu Din juga meminta agar wanita Indonesia yang menikah dengan pria asing menjadikan hikmah kasus Manohara. Dirinya meminta agar jangan merendahkan bangsa sendiri. "Jangan terlalu meninggikan orang asing, itu biasa saja. Jangan memandang diri kita rendah," tandasnya.
(ddt/iy)
Din Syamsuddin: Jangan Jadikan Kasus Manohara Sebagai Isu Nasionalisme
Pebriansyah Ariefana - detikNews
Jakarta - Pemberitaan kasus Manohara Odelia Pinot dianggap sudah berlebihan. Untuk itu kasus Manohara diminta agar tidak dijadikan sebagai permasalahan bangsa, apalagi isunya dibawa ke isu nasionalisme.
"Saya imbau masalah ini jangan dibawa ke masalah bangsa. Jangan terlalu dibesarkan isunya itu jadi isu nasionalisme," ujar Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsudin, di Jakarta Theatre, Jl MH Thmarin, Jakarta Pusat, Rabu (3/6/2009).
Din juga berharap agar pemberitaan Manohara tidak menutup pemberitaan soal Pemilu Presiden. Pemberitaan soal kampanye 3 pasangan capres-cawapres dinilai lebih diperlukan.
"Jangan sampai kasus ini menutup pemberitaan kampanye Pilpers. Karena kita juga harus mengetahui wacana apa saja yang diberikan capres dan cawapres," kata Din.
Din melanjutkan, dirinya pernah diminta tolong oleh Ibu Manohara terkait peristiwa yang dialami putrinya. Namun setelah mendapatkan informasi yang utuh soal kasus tersebut, Din menolaknya.
"Begitu saya dengar ternyata itu masalah antar suami-istri. Jadi seharusnya diselesaikan antara keluarga dengan melalui mediasi," imbuh Din.
Din menambahkan, dirinya mendapatkan kabar dari Duta Besar Indonesia Untuk Malaysia, Da'i Bachtiar, mengenai kasus ini. Kasus ini, kata Din, cukup rumit meski demikian Manohara tetap disarankan untuk mengadukan kasus ini ke pihak yang berwajib di Malaysia.
"Saya dengar dari Pak Dubes masalah ini tidak gampang, ini masuk ke dalam ranah domestik. Tetapi kalau memang Manohara ingin mangajukan secara hukum, bagus," tambah Din.
Selain itu Din juga meminta agar wanita Indonesia yang menikah dengan pria asing menjadikan hikmah kasus Manohara. Dirinya meminta agar jangan merendahkan bangsa sendiri. "Jangan terlalu meninggikan orang asing, itu biasa saja. Jangan memandang diri kita rendah," tandasnya.
(ddt/iy)
SBY Pimpin Rapat Koordinasi Bahas Ambalat
Rabu, 03/06/2009 15:03 WIB
SBY Pimpin Rapat Koordinasi Bahas Ambalat
Luhur Hertanto - detikNews
Jakarta - Menindaklanjuti perkembangan krisis tapal batas di perairan Kepulauan Ambalat yang berbatasan dengan Malaysia, seluruh petinggi TNI dan Polri menggelar rapat koordinasi. Presiden SBY pimpin memimpin rapat tersebut.
Rapat siang ini, Rabu (3/6/2009), berlangsung di Kantor Presiden, Jakarta. Hadir di antaranya adalah Menko Polhukam Widodo AS, KSAD, KSAU, KSAL, KBIN, Kapolri Jenderal Bambang HD dan Wakil Panglima TNI.
"Meski kemarin Pak Widodo sudah melaporkan secara singkat dan 3 hari lalu dari KSAL, saya ingin mendengar lebih lengkap lagi tentang situasi akhir di Ambalat," ujar SBY.
Selain kasus Ambalat, SBY juga minta dilaporkan kondisi keamanan di NAD dan wilayah lain di Tanah Air agar bisa diambil langkah tepat sebagai tindak lanjut penanganannya.
"Apa yang telah dan sedang dilakukan sehingga kita bisa memberi direction yang lebih jelas lagi," ujar SBY dalam pembukaan rapat koordinasi.
(lh/nrl)
SBY Pimpin Rapat Koordinasi Bahas Ambalat
Luhur Hertanto - detikNews
Jakarta - Menindaklanjuti perkembangan krisis tapal batas di perairan Kepulauan Ambalat yang berbatasan dengan Malaysia, seluruh petinggi TNI dan Polri menggelar rapat koordinasi. Presiden SBY pimpin memimpin rapat tersebut.
Rapat siang ini, Rabu (3/6/2009), berlangsung di Kantor Presiden, Jakarta. Hadir di antaranya adalah Menko Polhukam Widodo AS, KSAD, KSAU, KSAL, KBIN, Kapolri Jenderal Bambang HD dan Wakil Panglima TNI.
"Meski kemarin Pak Widodo sudah melaporkan secara singkat dan 3 hari lalu dari KSAL, saya ingin mendengar lebih lengkap lagi tentang situasi akhir di Ambalat," ujar SBY.
Selain kasus Ambalat, SBY juga minta dilaporkan kondisi keamanan di NAD dan wilayah lain di Tanah Air agar bisa diambil langkah tepat sebagai tindak lanjut penanganannya.
"Apa yang telah dan sedang dilakukan sehingga kita bisa memberi direction yang lebih jelas lagi," ujar SBY dalam pembukaan rapat koordinasi.
(lh/nrl)
Bapak Kandung Ingin Jumpa
'Saya tidak sayang lagi Tengku TT '
Jimadie Shah Othman | Jun 3, 09 3:55pm
Bekas model terkenal Indonesia, Manohara Odelia Pinot berkata dia tidak lagi sayang kepada suaminya, Tengku Temenggong Kelantan, Tengku Muhammad Fakhry Petra yang didakwa telah menderanya.
"Saya tidak sayang lagi kepada Tengku TT (Tengku Temenggung)," kata Manohara dalam siaran langsung di stesen TV Indonesia, RCTI tengahari tadi.
Selain Manohara, turut menyertai dalam siaran langsung itu ialah Mohd Soberi Shafii - teman karib Tengku Temenggung Kelantan itu.
Mohd Soberi memberitahun Malaysiakini, Manohara menyuarakan perasaan itu sewaktu siaran langsung tersebut.
"Saya menyertai siaran langsung itu melalui telefon dari Kuala Lumpur," katanya.
Menurut Mohd Soberi manohara menyatakan dia tidak lagi sayangkan suaminya ketika menjawabnya mengapa dia membuat dakwaan didera oleh Tengku Temenggong Kelantan.
Selepas mengungkapkan kata-kata penuh emosi itu, Mohd Soberi berkata, beliau kemudiannya kepada Manohara:
"Apakah selama ini, tidak pernah sekali pun kamu sayang padanya (Muhammad Fakhry Petra)?
'Bapa kandung ingin jumpa'
"Bagaimanapun Manohara tidak menjawab soalan itu. Dia diam dan menangis," katanya.
Mohd Soberi berkata, beliau juga meminta Manohara menjelaskan tindakannya menghebahkan di media dakwaan dia didera tanpa membuktikan terlebih dahulu.
"Manohara menjawab, dia mesti 'serve' (layan) media dahulu, yang banyak membantunya," kata Mohd Soberi.
Katanya, beliau juga memaklumkan kepada Manohara bahawa bapa kandungnya - George Mann - yang kini dipercayai sedang berada di Kanada, sedang mencarinya.
Menurutnya, mereka telah terpisah sejak 15 tahun lalu selepas George berpisah dengan ibu Manohara - Daisy Fajarina.
Bagaimanapun, kata Mohd Soberi, Manohara tidak menjawab, tetapi sebalik hanya mendiamkan diri
Berita Terkini dalam SMS
Jimadie Shah Othman | Jun 3, 09 3:55pm
Bekas model terkenal Indonesia, Manohara Odelia Pinot berkata dia tidak lagi sayang kepada suaminya, Tengku Temenggong Kelantan, Tengku Muhammad Fakhry Petra yang didakwa telah menderanya.
"Saya tidak sayang lagi kepada Tengku TT (Tengku Temenggung)," kata Manohara dalam siaran langsung di stesen TV Indonesia, RCTI tengahari tadi.
Selain Manohara, turut menyertai dalam siaran langsung itu ialah Mohd Soberi Shafii - teman karib Tengku Temenggung Kelantan itu.
Mohd Soberi memberitahun Malaysiakini, Manohara menyuarakan perasaan itu sewaktu siaran langsung tersebut.
"Saya menyertai siaran langsung itu melalui telefon dari Kuala Lumpur," katanya.
Menurut Mohd Soberi manohara menyatakan dia tidak lagi sayangkan suaminya ketika menjawabnya mengapa dia membuat dakwaan didera oleh Tengku Temenggong Kelantan.
Selepas mengungkapkan kata-kata penuh emosi itu, Mohd Soberi berkata, beliau kemudiannya kepada Manohara:
"Apakah selama ini, tidak pernah sekali pun kamu sayang padanya (Muhammad Fakhry Petra)?
'Bapa kandung ingin jumpa'
"Bagaimanapun Manohara tidak menjawab soalan itu. Dia diam dan menangis," katanya.
Mohd Soberi berkata, beliau juga meminta Manohara menjelaskan tindakannya menghebahkan di media dakwaan dia didera tanpa membuktikan terlebih dahulu.
"Manohara menjawab, dia mesti 'serve' (layan) media dahulu, yang banyak membantunya," kata Mohd Soberi.
Katanya, beliau juga memaklumkan kepada Manohara bahawa bapa kandungnya - George Mann - yang kini dipercayai sedang berada di Kanada, sedang mencarinya.
Menurutnya, mereka telah terpisah sejak 15 tahun lalu selepas George berpisah dengan ibu Manohara - Daisy Fajarina.
Bagaimanapun, kata Mohd Soberi, Manohara tidak menjawab, tetapi sebalik hanya mendiamkan diri
Berita Terkini dalam SMS
Pemuda PAS: Jangan Biar Isu Manohara Jadi Ke Altantuya
Pemuda PAS: Jangan biar isu Manohara jadi kes Altantuya
Jun 3, 09 4:15pm
Dewan Pemuda PAS Pusat (DPPP) mengambil serius isu pergolakkan rumahtangga Tengku Temenggong Kelantan, Tengku Mohamad Fakhry Sultan Ismail Petra dengan Isterinya, Manohara Odelia Pinot yang mengadu didera secara seksual, fizikal dan mental.
"Isu ini bakal menjadi isu besar antara dua negara, Malaysia dan Indonesia di mana Manohara yang dilaporkan telah kembali ke pangkuan ibunya di Indonesia baru-baru ini telah membuat satu tuduhan yang berat terhadap kerabat dari Kelantan itu," kata Timbalan Ketuanya, Nasaruddin Hassan Tantawi dalam satu kenyataan hari ini.
"DPPP berharap agar isu ini dapat diselesaikan dengan cara baik bagi mengelak persepsi negatif dan juga sentimen kenegaraan melampau yang mungkin memburukkan hubungan Malaysia dan Indonesia," tambahnya.
Sehubungan itu, katanya, DPPP meminta agar pihak berkuasa tidak melihat sahaja perkara ini, tetapi perlu menyiasat dakwaan itu di samping mendapatkan jawapan di pihak Tengku Temenggung.
"Bagi DPPP, ini merupakan krisis rumahtangga yang harus memberikan pembelaan kepada kedua-dua pihak tanpa kita membiarkan persepsi negatif dan prejudis bermain di fikiran rakyat kedua-dua negara.
"Kerajaan Malaysia bertanggungjawab membantu membersihkan imej Tengku Temenggong atau membela Manohara jika salah seorang antara keduanya benar.
"Kita tidak mahu isu ini menjadi buah mulut dan menjadi bahan cerita di media antarabangsa sebagaimana isu Altantuya Shaariibuu yang akhirnya memburukkan imej negara kerana Perdana Menteri hari ini, Datuk Seri Najib Tun Razak enggan mengambil apa-apa tindakan bagi membersihkan namanya," tambah beliau.
Bagaimanapun, katanya, DPPP mendoakan semoga kedua-dua pihak dapat mencapai persefahaman dan menyelesaikan perkara ini secara baik.
Jun 3, 09 4:15pm
Dewan Pemuda PAS Pusat (DPPP) mengambil serius isu pergolakkan rumahtangga Tengku Temenggong Kelantan, Tengku Mohamad Fakhry Sultan Ismail Petra dengan Isterinya, Manohara Odelia Pinot yang mengadu didera secara seksual, fizikal dan mental.
"Isu ini bakal menjadi isu besar antara dua negara, Malaysia dan Indonesia di mana Manohara yang dilaporkan telah kembali ke pangkuan ibunya di Indonesia baru-baru ini telah membuat satu tuduhan yang berat terhadap kerabat dari Kelantan itu," kata Timbalan Ketuanya, Nasaruddin Hassan Tantawi dalam satu kenyataan hari ini.
"DPPP berharap agar isu ini dapat diselesaikan dengan cara baik bagi mengelak persepsi negatif dan juga sentimen kenegaraan melampau yang mungkin memburukkan hubungan Malaysia dan Indonesia," tambahnya.
Sehubungan itu, katanya, DPPP meminta agar pihak berkuasa tidak melihat sahaja perkara ini, tetapi perlu menyiasat dakwaan itu di samping mendapatkan jawapan di pihak Tengku Temenggung.
"Bagi DPPP, ini merupakan krisis rumahtangga yang harus memberikan pembelaan kepada kedua-dua pihak tanpa kita membiarkan persepsi negatif dan prejudis bermain di fikiran rakyat kedua-dua negara.
"Kerajaan Malaysia bertanggungjawab membantu membersihkan imej Tengku Temenggong atau membela Manohara jika salah seorang antara keduanya benar.
"Kita tidak mahu isu ini menjadi buah mulut dan menjadi bahan cerita di media antarabangsa sebagaimana isu Altantuya Shaariibuu yang akhirnya memburukkan imej negara kerana Perdana Menteri hari ini, Datuk Seri Najib Tun Razak enggan mengambil apa-apa tindakan bagi membersihkan namanya," tambah beliau.
Bagaimanapun, katanya, DPPP mendoakan semoga kedua-dua pihak dapat mencapai persefahaman dan menyelesaikan perkara ini secara baik.
Langganan:
Postingan (Atom)