Sabtu, 10 Oktober 2009

Obama Peraih Hadiah Nobel Perdamaian, "Obama is The Best, untuk Abad Ini ", kata Bung Herman

AP PHOTO
Presiden Amerika Serikat Barack Obama meraih hadiah Nobel Perdamaian 2009, Jumat (9/10). Dengan demikian, Obama merupakan Presiden AS ketiga yang meraih hadiah Nobel Perdamaian setelah Theodore Roosevelt (tengah) tahun 1906 dan Woodrow Wilson (1919).
Nobel Perdamaian untuk Obama

Sabtu, 10 Oktober 2009 | 03:35 WIB

Oleh Rakaryan Sukarjaputra

Komite Nobel Norwegia memilih Presiden AS Barack Obama sebagai penerima hadiah Nobel Perdamaian tahun ini. Obama dipandang melakukan upaya luar biasa untuk memperkuat diplomasi internasional dan kerja sama di antara umat manusia serta visi dunia yang damai.

Komite Nobel Norwegia telah memutuskan hadiah Nobel Perdamaian 2009 dianugerahkan kepada Presiden AS Barack Obama,” demikian pernyataan Komite Nobel. Komite secara khusus mengaitkan visi penting Obama untuk adanya dunia tanpa senjata nuklir.

Visi sebuah dunia yang bebas dari persenjataan nuklir secara kuat telah menstimulasi perlucutan senjata dan perundingan pengawasan persenjataan.

Sebagai presiden, Obama dipandang telah menciptakan sebuah iklim politik internasional baru. Karena Obama, diplomasi multilateral kembali mendapat posisi sentral dengan penekanan pada peran PBB dan lembaga-lembaga internasional.

Komite Nobel menambahkan, Obama memilih dialog dan perundingan sebagai instrumen untuk penyelesaian konflik internasional. ”Terima kasih atas inisiatif Obama. AS sekarang juga memainkan peranan yang lebih konstruktif dalam memenuhi tantangan besar perubahan iklim yang dihadapi dunia. Demokrasi dan hak-hak asasi manusia pun akan diperkuat,” papar Komite Nobel Norwegia.

Ditambahkan, sangat jarang ada seseorang seperti Obama yang menyita perhatian dunia dan memberikan rakyatnya harapan untuk masa depan yang lebih baik. ”Diplomasinya dilandaskan pada konsep bahwa mereka yang akan memimpin dunia harus melakukannya dengan dasar nilai-nilai dan sikap yang didukung mayoritas penduduk dunia,” kata Komite Nobel.

Komite Nobel pun mendorong imbauan-imbauan yang disampaikan Obama bahwa, ”Sekarang adalah waktunya bagi kita semua untuk melaksanakan tanggung jawab kita bersama dengan sebuah respons global atas tantangan-tantangan global.”

Tidak diberi tahu

Ketua Komite Nobel Thorbjoern Jagland, Jumat (9/10), menjelaskan, Presiden Obama tidak mendapat telepon dari Komite Nobel Norwegia sebagaimana biasanya dilakukan. ”Membangunkan seorang presiden pada tengah malam adalah sesuatu yang tidak seharusnya Anda lakukan,” ungkap Jagland.

Biasanya, penerima penghargaan ditelepon dari Oslo, sejam atau kurang sebelum pengumuman pada pukul 09.00 GMT (pukul 05.00 waktu Washington).

Jagland menambahkan, kelima anggota komite juga mengkhawatirkan nama pemenang akan bocor keluar sebelum secara resmi diumumkan di Oslo, sebagaimana pernah terjadi pada masa lalu.

Presiden Obama, seperti disampaikan oleh seorang pejabat senior pemerintah, menerima kabar dia terpilih sebagai penerima hadiah Nobel Perdamaian dengan sikap rendah hati.

Sekretaris Pers Gedung Putih Robert Gibbs mendapat telepon sebelum subuh, lalu membangunkan Obama untuk menyampaikan berita tersebut. ”Presiden menerima dengan sikap rendah hati setelah dipilih oleh Komite Nobel,” kata pejabat senior itu.

Sangat layak

Ketua Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) Mohamed ElBaradei mengatakan gembira dengan pemberian Nobel Perdamaian tahun ini kepada Presiden Obama.

”Dalam kurang dari setahun di kantornya, ia telah mentransformasikan cara kita melihat diri sendiri dan dunia yang kita tinggali dan membangkitkan lagi harapan untuk sebuah dunia yang damai di dalamnya. Saya tidak bisa memikirkan siapa pun hari ini yang lebih layak menerima penghargaan ini,” ungkapnya.

Banyak tokoh dunia memberikan ungkapan selamat kepada Obama, tetapi banyak juga yang tidak setuju dengan pemberian penghargaan itu.

Kelompok Hamas Palestina melalui pejabatnya, Sami Abu Zuhri, menilai penghargaan itu prematur. ”Obama masih harus menempuh sebuah perjalanan panjang dan banyak pekerjaan harus dilakukan sebelum ia layak mendapatkan sebuah penghargaan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, Obama hanya membuat janji-janji dan tidak memberikan kontribusi berarti bagi perdamaian dunia. ”Ia tidak melakukan apa pun untuk memastikan keadilan bagi Arab dan dunia Muslim,” ujar Zuhri.

Liaqat Baluch, pemimpin senior Jamaat-e-Islami, sebuah partai konservatif di Pakistan, menyebut penghargaan tersebut sebuah ”lelucon” memalukan.

Begitu juga Issam al-Khazraji, pekerja harian di Baghdad, yang mengatakan, ”Dia tidak layak menerima penghargaan ini. Semua masalah ini, Irak, Afganistan, belum diselesaikan. Lelaki yang menyerukan perubahan belum mengubah apa pun,” paparnya.

Kelompok Taliban juga menolak Nobel untuk Obama. (AP/AFP/Reuters/OKI)

Obama Dipuji dan Dicela Nominasi Obama Hanya 12 Hari Setelah Berkuasa

Obama Dipuji dan Dicela
Nominasi Obama Hanya 12 Hari Setelah Berkuasa
Minggu, 11 Oktober 2009 | 03:34 WIB
Washington, Sabtu - Pemberian gelar Nobel Perdamaian kepada Presiden Amerika Serikat Barack Obama, Jumat, memancing reaksi mendua di kalangan media internasional yang terbit hari Sabtu (10/10). Sebagian memuji dan sebagian lain mencela hal itu sebagai ”tindakan yang sangat dipolitisasi”.Komite Nobel di Oslo, Norwegia, Jumat lalu, memberikan penghargaan itu kepada Obama atas upaya ”luar biasa”-nya dalam hal diplomasi internasional serta upayanya mempercepat perlucutan senjata nuklir.Hal itu mengejutkan dan bagi sebagian lainnya juga dipandang sebagai sebuah keputusan kontroversial.
Dalam opininya di surat kabar terkemuka AS, The Washington Post, pengamat politik Dan Balz berkomentar, ada keterkejutan di seantero dunia bahwa hadiah prestisius itu diberikan kepada ”seorang presiden pada tahun pertamanya berkuasa dan belum memiliki prestasi secara internasional”.

Begitu luasnya reaksi yang muncul, di satu pihak ada yang begitu gembira luar biasa menyambutnya, tetapi ada juga yang mencelanya, menggarisbawahi betapa terpecahnya secara politik pendapat akan arah kebijakan politik Obama. Dan, betapa memunculkan kesan, terpolarisasinya secara tajam kepemimpinannya,” tulis Balz pula.Surat kabar prestisius AS lainnya, The New York Times, mengomentari pemberian penghargaan kepada Obama tersebut sebagai ”berkah yang campur aduk” bagi Obama, yang sekaligus juga mencerminkan betapa ”ada jurang antara janji-janji ambisius kata-katanya dan prestasi (yang dicapainya)”.Obama, menurut surat kabar New York itu, juga masih dielu- elukan sebagai figur yang ”anti-Bush” meskipun pada kenyataan sebenarnya ia belum beranjak benar dari kebijakan yang digariskan pemerintahan sebelumnya menyangkut kebijakan- kebijakan keamanan nasional (AS). Suara dari Eropa pun tak kurang kerasnya. Daily Telegraph terbitan London pun melukiskan pemberian gelar Nobel kepada Obama itu sebagai ”salah satu keputusan juri-juri Nobel yang paling mengejutkan yang pernah terjadi”.Menurut Daily Telegraph pula, jika dilihat dari batas akhir nominasi calon peraih Nobel yang terjadi hanya 12 hari setelah Obama dilantik menjadi Presiden AS, kali ini adalah salah satu nominasi Nobel yang paling politis selama ini.Namun, sebaliknya, surat kabar berhaluan kiri Perancis, Liberation, melukiskan bahwa penghargaan itu pantas bagi Obama, ”karena Obama, yang perjalanan hidupnya secara simbolis mewakili tiga benua, suksesnya telah menjadi seperti sinonim dengan martabat dan harapan”.Surat kabar India, Tribune, melukiskan penghargaan tersebut sebagai ”sebuah penghargaan sepanjang hidup bagi seorang Obama yang masih pemula”.Suara dari Asia? Beijing News dari China, misalnya, memandang penghargaan bagi Obama ini sebagai ”sebuah penghargaan yang memberi dorongan”, lebih bermakna simbolis daripada makna yang lain.Yomiuri Shimbun dari Jepang melukiskannya penghargaan itu sebagai ”harapan global terhadap pemerintahan Obama” dan juga ”sebuah tugas penting bagi Obama untuk mewujudkannya dari sekarang”.Namun, jangan kaget dengan celaan surat kabar Mesir, Al-Dustur, yang berpendapat penghargaan atas Obama itu sebagai ”kemunafikan politik”.”Apa yang sudah dia lakukan sehingga ia mendapatkan penghargaan itu?” ungkap Al-Dustur mengingatkan bahwa sampai detik ini pun pasukan AS masih juga bercokol di Irak dan Afganistan. Proses perdamaian di Timur Tengah juga masih menemui jalan buntu.”Obama juga tidak berhasil menekan Israel untuk melucuti senjata-senjata nuklirnya.” (AP/AFP/Reuters/sha)

Obama Raih Nobel Perdamaian 2009

Anton Suhartono - Okezone
(Foto: CNN) OSLO - Presiden Amerika Serikat Barack Obama diumumkan sebagai pemenang Hadiah Nobel Perdamaian. Obama menerima penghargaan itu belum genap stahun usia jabatannya sebagai presiden.Juri menyebut presiden AS pertama berkulit hitam itu sebagai seseorang yang "luar biasa" dalam diplomasi di kancah internasional.Obama dinobatkan sebagai pemenang Nobel Perdamaian atas "usaha luar biasanya untuk menguatkan diplomasi dan kerja sama internasional antarnegara dan penduduk dunia". Demikian diungkapkan Kepala Komite Nobel Norwegia Thorbjoern sebagaimana dikutip AFP, Jumat (9/10/2009). Obama menyingkirkan pesaing terdekatnya Presiden Prancis Nicolas Sarkozy. Komite melihat pentingnya visi Obama serta kerjanya dalam mewujudkan dunia tanpa nuklir."Obama adalah sosok yang memberi banyak orang harapan untuk masa depan dan ini sangat jarang sekali," ungkapnya dalam pernyataan. Pemenang Nobel Perdamaian tahun lalu adalah Presiden Finlandia Martti Ahtisaari.(jri)

Jumat, 25/09/2009 11:39 WIB Laporan dari Amerika Serikat Obama Sedikit Lebih Tinggi Dibanding SBY Budiono Darsono - detikNews Foto Terkait gb SBY Had

Jumat, 25/09/2009 11:39 WIB
Budiono Darsono - detikNews

Pittsburgh - Dua tokoh ini akhirnya bertemu, berjabat tangan, dan bahkan berfoto bersama. KTT G-20 di Pittsburgh, Pensylvinia, AS, yang kembali mempertemukan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Presiden AS Barack Obama agak leluasa. Obama terlihat sedikit lebih tinggi dibanding SBY.
Bulan November 2008 lalu, dalam konferensi KTT G-20 juga, SBY batal bertemu presiden AS yang pernah hidup di Menteng Dalam, Jakarta Selatan itu. Padahal, rencana mempertemukan keduanya di Washington, DC sudah dilakukan kedua belah pihak. Namun, saat itu Obama yang baru terpilih sebagai presiden AS dan belum dilantik, tidak bisa bertemu SBY. Keduanya sama-sama sibuk, tak ada waktu yang cocok. SBY pun akhirnya menitipkan foto Obama kecil kepada Dubes RI untuk AS. Foto itu merupakan titipan dari teman-teman Obama sewaktu sekolah SDN 01 Menteng.
Akhirnya, SBY baru bisa melakukan komunikasi dengan Obama lewat telepon saat transit di Bandara Seattle AS saat perjalanan kembali ke Indonesia setelah melawat negara-negara Amerika Selatan, Senin (26/11/2008). Dalam percakapan singkat itu, SBY mengundang Obama datang ke Indonesia. Obama menyatakan bersedia, karena kangen dengan rambutan, bakso, dan nasi goreng.
Pertemuan pertama kali SBY dengan Obama baru terjadi di sela-sela KTT G-20 di London, Kamis, 1 dan 2 April 2009 lalu. SBY sempat bertemu Obama saat makam malam di Istana Buckingham dan saat working breakfast di Gedung Excel, London, tempat berlangsungnya KTT G-20.
Dalam dua pertemuan itu, SBY dan Obama sempat bertegur sama dan melakukan komunikasi intensif. Sayangnya, tidak ada kesempatan bagi keduanya untuk bertemu secara khusus. Apalagi foto berdua. Satu-satunya foto SBY berada di samping Obama yang muncul di media massa adalah hasil jepretan Juru Bicara Presiden SBY, Dino Patti Djalal. Tak ada fotografer dari Indonesia yang bisa mengabadikan pertemuan SBY-Obama.
Namun, dalam pertemuan di KTT G-20 Pittsburgh, SBY dan Obama memiliki kesempatan bertemu dan berkomunikasi lebih banyak. Maklum, kali ini Obama yang menjadi tuan rumah. Dia harus menyapa dan melayani para pemimpin negara G-20, termasuk Presiden SBY.
Saat acara makan malam di Phipps Conservatory, Kamis (24/9/2009) malam waktu setempat, SBY dan Obama bahkan bertemu cukup lama. Begitu juga Ibu Negara Ani Yudhoyono yang disambut dengan ramah oleh Ibu Negara AS, Michelle Obama.
Bahkan, SBY dan Ibu Ani sempat berfoto bersama Obama dan Michelle. SBY berjas hitam mengenakan dasi merah dan Obama berjas hitam berdasi biru. Sementara Ibu Ani mengenakan kebaya warna merah dan Michelle mengenakan gaun dan berkalung putih.
Baru kali ini, pertemuan SBY dan Obama lebih gampang didokumentasikan lewat foto. Jepret-jepret! Saat bersanding, oh... SBY yang termasuk berpostur tinggi di Indonesia, terlihat kalah tinggi dibanding Obama. (asy/nrl)

Kunjungan Obama ke RI Ditunda

Rabu, 07/10/2009 13:13 WIB
Kunjungan Obama ke RI Ditunda
Luhur Hertanto - detikNews

Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama batal berkunjung ke Indonesia usai menghadiri KTT Asean di Singapura, November 2009 mendatang. Kunjungan Obama ditunda hingga 2010 tahun depan. Kenapa? Penundaan kunjungan tersebut disepakati saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bertemu dengan Obama di sela-sela pertemuan KTT G-20 di AS akhir September lalu. Kedua pemimpin sepakat kunjungan ke Indonesia sangat penting untuk memproyeksikan hubungan bilateral antara RI- AS. Setelah membahas berbagai opsi, kedua pemimpin setuju waktu yang terbaik untuk melakukan kunjungan tersebut adalah tahun depan. Selanjutnya tanggal dan bulan akan ditetapkan bersama oleh kedua pihak.
Juru Bicara Kepresidenan Bidang Luar Negeri Dino Patti Djalal membantah penundaan kunjungan Obama terkait dengan masalah terorisme di Indonesia. "Oh tidak ada. Itu dengan adanya keberhasilan operasi-operasi yang kemarin dunia menilai komitmen Indonesia dalam memerangi terorisme makin menonjol," ujar Dino dalam jumpa pers di Kantor Presiden, Jl Veteran, Jakarta, Rabu (7/10/2009).Dino meyakinkan kunjungan Obama hanya masalah waktu saja. Semula Obama direncanakan datang untuk mengadakan dinner di Indonesia dan langsung kembali lagi AS. Acara ini dinilai kurang mencerminkan hubungan RI-AS yang makin berkembang."Rencananya kemungkinan Presiden Obama akan bermalam dan bisa lebih leluasa mengatur jadwal-jadwal untuk melakukan pertemuan dengan berbagai kelompok masyarakat," jelas Dino. Apakah nanti akan ada rencana kunjungan Obama ke Menteng dan Islam community? "Untuk itu tanyakan ke US Embassy," tandas Dino. (anw/iy)

Gedung Putih Presiden Obama Melawat ke Asia

umat, 09/10/2009 00:05 WIB
Eddi Santosa - detikNews

Foto: dok.detikcom
Washington - Presiden AS Barack Obama untuk pertama kali akan melakukan lawatan resmi ke negara-negara Asia: Jepang, Cina, Korea Selatan dan Singapura, tapi tidak ke Indonesia. Dalam lawatan resmi yang akan dimulai pada 11/11/2009 itu presiden Obama antara lain akan menghadiri pertemuan APEC, demikian juru bicara Gedung Putih, Kamis (8/10/2009) dikutip detikcom dari De Telegraaf. Dikatakan bahwa dalam lawatan ini Presiden Obama sengaja memilih tidak ke Indonesia.
Obama belum lama telah bertemu dengan Presiden Yudhoyono bulan lalu di AS. Kedua kepala negara saat itu sepakat untuk menyelenggarakan kunjungan resmi kenegaraan Presiden Obama ke Indonesia yang baru akan dilakukan di 2010. (es/es)

Obama Raih Nobel Perdamaian

Jumat, 09/10/2009 17:22 WIB
Obama Raih Nobel Perdamaian
Novi Christiastuti Adiputri - detikNews

(Foto: AFP)
Oslo - Belum setahun menjadi presiden, Barack Obama sukses menyabet penghargaan bergengsi Nobel Perdamaian 2009. Anugerah diberikan atas tindakan Obama yang turut menciptakan 'harapan bagi masa depan lebih baik' bagi penduduk seluruh dunia. Obama dinilai berkomitmen terhadap perdamaian dunia dan seruannya bagi pengurangan penggunaan senjata nuklir secara global.

Seperti dilansir Reuters, Jumat (9/10/2009), panitia Nobel Norwegia memuji Obama karena usahanya yang luar bisa dalam memperkuat diplomasi dan kerjasama internasional. Sebagai warga Afrika-Amerika pertama yang menduduki posisi tertinggi di AS, Obama sangat sigap dengan meminta gencatan senjata dan menitikberatkan pada proses perdamaian di Timur Tengah sejak menjabat Januari lalu. "Sangat jarang seorang seperti Obama mendapat perhatian dunia dan memberikan harapan masa depan yang lebih bagi bagi semua orang," jelas panitia penghargaan. Penghargaan ini diberikan kepada Obama kurang dari 9 bulan masa ia menjabat sebagai presiden AS. Obama disebut telah mencetak berbagai terobosan dalam baik dalam menangani program nuklir Timur Tengah atau Iran, maupun dalam menghadapi pilihan sulit terkait pengaturan perang di Afghanistan.
Obama merupakan anggota Partai Demokrat ketiga yang memenangkan penghargaan ini setelah Wakil Presiden Al Gore pada 2007 lalu dan Jimmy Carter pada tahun 2002. Penghargaan ini bernilai 10 juta krona Swedia atau setara dengan Rp 13 miliar. Rencananya penghargaan ini akan diberikan di Oslo, Norwegia, pada 10 Desember mendatang. (nvc/nrl)