Sabtu, 15 Agustus 2009

Selasa, 11/08/2009 18:19 WIB
Tjahjo: Desk Antiteror TNI Tak Masalah Dihidupkan Lagi
Elvan Dany Sutrisno - detikNews

Jakarta - Sejumlah kalangan menilai, wacana memunculkan kembali desk antiteror TNI akan mengancam proses demokrasi. Sebab, organisasi tersebut identik dengan sejarah kelam penculikan para aktivis dan politisi vokal. Anggota Komisi I DPR Tjahjo Kumolo merasa kekhawatiran tersebut tidak beralasan.

"Desk antiteror TNI sebagai instruksi presiden, prinsipnya tidak masalah sejauh sebagai faktor penunjang yang sudah dilakukan Polri lewat densus 88," kata Tjahjo di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (11/8/2009).

Menurut Tjahjo, selama koordinasi dengan pihak terkait lainnya lancar, pembentukan tersebut tidak perlu dipersoalkan. Sedangkan tingkat koordinasi harus dipimpin langsung oleh presiden.

"Masalahnya pada koordinasi yang penting, karena tidak hanya TNI, tetapi melibatkan intelijen dari BIN, imigrasi, kejaksaan dan Polri sendiri," jelasnya.

Sebelumnya, Panglima TNI Joko Santoso mengatakan, akan membentuk kembali desk antiteror yang bekerja membantu kepolisian untuk mengejar para teroris. Desk antioteror TNI akan dihidupkan lagi hingga tingkat Koramil.

(mad/iy)
Selasa, 11/08/2009 18:32 WIB
Jejak SJ di Kahuripan
SJ Tak Mirip dengan Foto yang Diperlihatkan Kapolri
Arifin Asydhad, Gagah Wijoseno - detikNews

Jakarta - Polisi masih memburu pria berinisial SJ dalam kasus peledakan bom di JW Marriott Jakarta dan The Ritz-Carlton. Diduga kuat SJ adalah Saifuddin Jaelani (SJ). Tapi, mengapa foto SJ yang diperlihatkan Kapolri tidak mirip dengan Saifuddin Jaelani?

"Foto yang diperlihatkan Kapolti itu tidak mirip dengan Pak Saifuddin. Jangan-jangan fotonya yang salah, atau SJ yang dimaksud bukan Saifuddin Jaelani?" tanya salah seorang warga Perumahan Telaga Kahuripan, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Selasa (11/8/2009).

Pengakuan warga bahwa foto SJ yang diperlihatkan Kapolri dalam jumpa pers pada Sabtu (8/8/2009) sore lalu tidak mirip dengan Saifuddin Jaelani tidak hanya datang dari satu orang. Sejumlah warga lainnya juga menyampaikan hal yang sama.

Menurut warga, Saifuddin Jaelani memiliki wajah agak lonjong dengan tinggi badan sekitar 170 cm. "Tapi, foto yang kemarin disampaikan Kapolri beda jauh," ujar dia.

Meski foto yang disampaikan Kapolri tidak mirip, namun warga Kahuripan cukup yakin bahwa SJ yang dimaksud adalah Saifuddin Jaelani. Sebab, saat ini keberadaan Saifuddin Jaelani tidak diketahui. Dia menghilang begitu saja sejak empat bulan lalu.

Selain itu, kedekatannya dengan banyak remaja di Kahuripan diduga sebagai upaya perekrutan yang dilakukan SJ. Apalagi ada sejumlah remaja yang mengaku pernah diajak SJ keliling daerah untuk pengajian. Salah satu isi pengajian adalah doktrin mengenai jihad, termasuk menjadi pengantin.

Selama di Candraloka Perumahan Telaga Kahuripan, SJ tinggal di RT 3 RW 10. Dia datang ke perumahan itu pada akhir 2007 dan kemudian menghilang sejak 4 bulan lalu.

(asy/nrl)
Selasa, 11/08/2009 18:56 WIB
Pengamat Singapura: Noordin Mati Terorisme Takkan Berhenti
Shohib Masykur - detikNews

Jakarta - Kepastian tewasnya Noordin M Top masih simpang siur. Namun entah Noordin sudah tewas atau belum, yang jelas diyakini terbunuhnya Noordin tidak akan menghentikan aksi-aksi terorisme di Indonesia.

"Tentu saja menaklukkan Noordin Top sangat penting untuk merontokkan keseluruhan jaringan teroris. Namun hal itu tidak akan menaklukkan terorisme," kata pengamat terorisme dari Singapura, Rohan Gunaratna, seperti dikutip Reuters, Selasa (11/8/2009).

Menurut Rohan, Indonesia tidak memiliki kemauan politik yang cukup untuk menangkapi para pengajar, penulis, dan penerbit buku-buku radikal. Padahal mereka inilah yang menjadi pupuk bagi suburnya militanisme Islam di Indonesia.

"Teroris di Indonesia memiliki kemampuan regenerasi yang dahsyat karena infrastruktur ideologis yang menopang jaringan teroris tidak pernah dihancurkan," imbuh Rohan.

Hal serupa disampaikan pengamat keamanan dari Universitas Indonesia (UI) Andi Widjajanto. Sejak terbunuhnya Azahari pada 2005, operasi teroris memang menurun selama 4 tahun. Namun operasi terakhir di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton 17 Juli lalu menunjukkan mereka telah berhasil menyusun kekuatan kembali dan barangkali lebih kuat dari sebelumnya.

"Saya kira mereka telah menyiapkan regenerasi," ujar Widjajanto yang percaya Reno alias Tedi yang merupakan ahli bom murid Azahari dan ustad Syaifudin Jaelani (SJ) yang merupakan perekrut pelaku bom bunuh diri adalah orang-orang yang akan menggantikan Noordin.

Kemudahan rekrutmen itu dibantu oleh kondisi sosial ekonomi Indonesia yang cukup memprihatinkan. "Kami memiliki 210 juta penduduk, dan 35 juta di antaranya sangat miskin. Kelompok teroris ini hanya perlu 5 orang untuk melancarkan serangan, jadi sangat mudah bagi mereka untuk merekrut orang baru," imbuh Widjajanto.
(sho/irw)
Selasa, 11/08/2009 20:38 WIB
Tengok Jasad Teroris, Petinggi Polri Datangi RS Polri
Reza Yunanto - detikNews

Jakarta - Mabes Polri akan mengumumkan identitas jenazah teroris yang tewas di Temanggung besok. Sejumlah petinggi Polri pun tampak mendatangi ruang Instalasi Forensik RS Polri Sukanto, Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (11/8/2009), pukul 18.15 WIB.

Petinggi Polri yang datang ke RS Polri di antaranya Kapusdokkes Brigjen Pol Edi Saparwoko dan Kabid Pusdokkes Kombes Pol Musaddeq Ishaq. Tak jelas apa maksud kedatangan mereka. Tanpa mengeluarkan pernyataan, keduanya langsung memasuki kamar jenazah.

Meski Kepala RS Polri Sukanto Brigjen Pol Aidi Rawas telah menyatakan otopsi terhadap ketiga jenazah telah usai, namun hasil otopsi dan sidik jari belum bisa diumumkan.

Aidi mengatakan, kedatangan petinggi Polri ke ruang instalasi forensik selain untuk memastikan hasil-hasil yang telah dicapai oleh tim identifikasi, juga untuk melihat sejauh mana kinerja mereka dalam mengungkap identitas jasad yang tewas di Temanggung dan dua orang lagi di Jatiasih, Bekasi.

Hasil sidak itu, lanjutnya, kemungkinan akan dilaporkan kepada Kapolri di Mabes Polri. Mengenai hasil dan perkembangan apa yang akan dilaporkan, Aidy enggan merincinya lebih jauh.

Usai sidak, tidak satu pun petinggi Polri memberikan kementar. Mereka langsung memasuki mobil polisi bernomor 11-018 dan bergegas meninggalkan rumah sakit. (Rez/sho)


Selasa, 11/08/2009 14:15 WIB
SBY Tak Akan Kurangi Aktivitas
Panglima TNI: Kita Tak Perlu Takut dengan Teroris
Anwar Khumaini - detikNews

reuters
Jakarta - Presiden SBY tetap akan beraktivitas seperti biasa meski menjadi target teroris. Terorisme tidak perlu ditakuti, apalagi sampai harus mengganggu kegiatan SBY. "Tidak, kita tidak perlu takut dengan teroris," ujar Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Selasa (11/8/2009).

Panglima TNI mengatakan itu saat ditanya wartawan apakah ada anjuran agar kegiatan luar SBY akan dikurangi.

Meski demikian, menurut Panglima, pengamanan terhadap SBY tetap ditingkatkan. Pengamanan dilakukan di Istana dan di kediaman SBY, di Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat.

Panglima memastikan, Paspampres tidak akan ditambah melainkan ditingkatkan untuk mengamankan SBY. "Kita tambah (kinerjanya), karena ini memang kebutuhan saat ini," tegas Panglima yang mengaku kedatangannya ke Istana Negara untuk mengecek kinerja Paspampres.

Panglima menilai, sejauh ini kerja Paspampres sudah baik. Pengecekan kerja Paspampres dilakukan saat SBY tiba dari Cikeas ke Istana.

"Hasilnya baik tapi selalu ada peningkatan dan perbaikan sistem ataupun peralatan," ungkap Panglima sambil mengaku pengamanan yang dilakukan hanya pengamanan rutin.

Apakah dengan kondisi ini teroris menang karena telah berhasil melakukan ketidakstabilan keamanan? "Saya sebagai Panglima TNI tidak berpendapat seperti itu," kata dia. (nik/iy)
Selasa, 11/08/2009 14:22 WIB
Ditinggal 8 Tahun, Rahma Tidak Ingin Cerai Noordin M Top
Ken Yunita - detikNews

Jakarta - Siti Rahma bisa jadi seorang perempuan yang kuat. Meski telah ditinggalkan begitu saja sejak tahun 2002, perempuan yang akrab disapa Rahma itu tetap setia kepada Noordin M Top.

Hingga tahun 2009, Rahma masih menjadi istri sah Noordin. Dia tidak mengajukan gugatan cerai kepada suaminya yang sudah hampir 8 tahun tidak ditemuinya itu.

"Sampai sekarang dia masih istri Noordin, tidak ingin bercerai," kata juru bicara keluarga Noordin, Badarudin Ismail dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (10/11/2009).

Rahma memang sempat bersedih dengan sejumlah pemberitaan yang ditujukan kepada suaminya itu. Apalagi, anak-anaknya juga selalu bersedih dan bertanya di mana ayahnya.

Namun kini, Rahma sudah dapat menerima apa yang terjadi. Dia berharap, kasus suaminya dapat segera selesai. "Dia menerima apa yang berlaku, dia sudah pasrah," kata Badarudin.

Saat ini, Rahma dan ketiga anaknya tinggal di rumah orang tuanya, Rusdi Hamid di Kampung Sg Tiram, Johor Baru, Malaysia. Untuk menghidupi kebutuhan tiga anaknya yang masih kecil-kecil, Rahma mengajar mengaji di dekat rumahnya.

Seperti dilansir media asing, The Star, kehidupan Rahma pasca ditinggal Noordin sungguh memprihatinkan. Selain masalah ekonomi, keadaan psikologis Rahma juga sempat terganggu. Namun rupanya Rahma bisa bangkit dan membangun hidupnya kembali.

Setelah meninggalkan keluarganya, Noordin diduga bersembunyi di Indonesia. Selama berpindah-pindah, Noordin dikabarkan telah menikahi sejumlah perempuan. Salah satu istri Noordin adalah Munfiatun, perempuan asal Jepara.

Akhir-akhir ini, Noordin juga dikabarkan menikahi perempuan bernama Arina. Namun kepada Arina, Noordin mengaku bernama Abdul Halim.

(ken/iy)
Selasa, 11/08/2009 14:30 WIB
Penggerebekan di Jatiasih
Jenazah Diduga Bukan Noordin, Pengamanan Bekasi Ekstra Ketat
Chazizah Gusnita - detikNews

Jakarta - Pengamanan di Bekasi dilakukan ekstra ketat setelah penggerebekan teroris di Jatiasih. Apalagi Noordin M Top yang sempat singgah di kota itu diduga tidak tewas dalam penyergapan teroris di Temanggung, Jawa Tengah.

"Yang jelas Bekasi nggak ada masalah. Kita jaga super ekstra ketat. Apalagi di sekitar lokasi," kata Kapolres Metro Bekasi Kombes Pol Mas Guntur Laupe kepada detikcom, Selasa (11/8/2009).

Menurut Guntur, patroli di sekitar TKP penggerebekan sudah dilakukan. 30 Personel dikerahkan untuk pengamanan lokasi. Walikota Bekasi juga akan memanggil seluruh lurah di Bekasi pada Kamis (13/8/2009) mendatang.

"Sudah diundang ketua RW, RT, dan lurah. Kira-kira ada yang mencurigakan nggak" jelasnya.

Mas Guntur mengatakan, setiap hari Polres Bekasi mengerahkan 120 personel untuk patroli di wilayah Bekasi. "Jadi kita juga ada patroli dan operasi. Mereka bergantian pada jam-jam tertentu," tegasnya.

(gus/iy)
Selasa, 11/08/2009 15:10 WIB
Bom Marriott dan Ritz-Carlton
Dikirimi Rp 1 Miliar, SJ Pinjam Rekening Warga
Gagah Wijoseno, Arifin Asydhad - detikNews

Rumah yang Dikontrak SJ (foto: detikcom)
Jakarta - Menghilangnya Saifuddin Jaelani (SJ) dari Perumahan Telaga Kahuripan, Kemang, Kabupaten Bogor, menyisakan misteri yang luar biasa banyak. Cerita dari mulut ke mulut menyebar. Bahkan, ada cerita SJ pernah dikirimi uang sebesar Rp 1 miliar.

Cerita ini sudah bukan rahasia lagi bagi warga di perumahan yang terletak di Desa Tegal Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor itu. Cerita ini muncul ke publik setelah polisi mengaku tengah memburu tersangka bom Marriott dan Ritz-Carlton berinisial SJ.

SJ yang dimaksud polisi diduga Saifuddin Jaelani, seorang ustad yang tinggal di Gugus Candraloka, Perumahan Telaga Kahuripan, Kabupaten Bogor selama kurang lebih 1 tahun. Pria beristri dan beranak satu dan berusia 32 tahun itu datang ke perumahan itu pada akhir 2007. Dan sekitar 3-4 bulan lalu, SJ tiba-tiba menghilang tanpa pesan.

Menghilangnya ustad berperawakan tinggi dan pandai bergaul itu jelas membuat warga bertanya-tanya. Ke mana dia? Apa yang dia lakukan kok menjadi buron kasus peledakan bom di Marriott dan Ritz-Carlton? Apa benar dia yang membuat Dani Dwi Permana, seorang remaja masjid di perumahan itu, berani melakukan bom bunuh diri?

Masih banyak pertanyaan yang muncul di benak warga. Di tengah banyaknya pertanyaan itu, ternyata warga baru sadar bahwa ada sejumlah keganjilan pada diri SJ. Salah satunya, mengenai transfer uang Rp 1 miliar yang ditujukan kepada SJ.

Yang membuat aneh, dikirimi uang sebanyak itu, namun SJ tidak punya rekening. SJ meminjam rekening kepada salah seorang warga yang cukup dekat degannya. Rekening itu sebenarnya sudah lama tak diaktifkan oleh si empunya alias tidak pernah diisi atau digunakan untuk transaksi.

"Kaget juga, kok banyak sekali uang yang dikirim. Ada yang bilang Rp 500 juta, ada juga yang bilang Rp 1 miliar. Tapi, ya tetap banyak. Untuk apa uang itu?" kata salah seorang warga, Selasa (11/8/2009).

Saat itu, si empunya rekening tidak menaruh curiga, karena sikap SJ memang luar biasa bisa menyihir warga setempat. SJ dikenal sebagai ustad yang hafal Al Quran, bacaan Al Qurannya bagus, bisa bergaul dengan warga setempat, dan aktif di kegiatan masyarakat.

Kiriman uang Rp 1 miliar itu memang mencurigakan, karena uang itu terlalu banyak bagi seorang pengontrak rumah bertipe 36. Lagi pula, dia sehari-hari hanya berbisnis obat-obatan herbal dan ahli bekam.

Meski menjadi cerita dari mulu ke mulut, cerita ini bisa saja tidak benar. Namun, kabarnya Densus 88 sudah menelusuri temuan ini. Bila benar ada kiriman uang Rp 1 miliar, bisa jadi hal ini menjadi salah satu pintu masuk bagi polisi untuk menelusuri sumber dana jaringan pelaku bom Marriott dan Ritz-Carlton.

(asy/nrl)
Selasa, 11/08/2009 16:34 WIB
Perburuan Teroris
Kapolri Imbau Stasiun TV Jangan Ganggu Penyidikan
Didit Tri Kertapati - detikNews

Jakarta - Sejumlah stasiun televisi berlomba-lomba menayangkan penggerebekan teroris secara eksklusif. Bahkan foto-foto korban yang cukup mengerikan juga dipertontonkan.

Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri pun mengimbau seluruh stasiun televisi agar jangan sampai mengganggu proses penyidikan.

"Tadi pertemuan dengan Kapolri menjelaskan mengenai imbauan peliputan. Jangan sampai mengganggu peoses penyidikan," ujar Direktur Pemberitaan MetroTV Suryo Pratomo.

Hal itu disampaikan Suryo usai pertemuan sejumlah pimpinan stasiun televisi dengan Kapolri di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Selasa (11/8/2009).

Dalam pertemuan itu, polisi dan pimpinan TV setuju membangun aturan baru terkait penayangan penyergapan terorisme. Polisi menyebutkan penayangan harus sesuai aturan KPI No 3 tahun 2007 pasal 30 dan 31 tentang adegan kekerasan tidak boleh disajikan secara eksplisit.

Pihak TV sepakat mengikuti aturan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). "Kita bangun aturan baru. Menurut KPI, untuk hal itu korban kekerasan tidak boleh ditampilkan," kata Suryo.

Menurut Suryo, polisi tidak mendikte penayangan TV dalam pertemuan tersebut. Polisi dinilai memberikan penjelasan secara fair. "Tidak ada (dikte)," jelas bos MetroTV itu.

Tidak ada pembahasan mengenai kaburnya salah satu tersangka teroris di Solo akibat pemberitaan media. (gus/iy)

Selasa, 11/08/2009 16:45 WIB
Mabes Polri Beberkan Tewas Tidaknya Noordin Rabu
Didit Tri Kertapati - detikNews

Jakarta - Mabes Polri akan membeberkan identitas jenazah yang tewas dalam penyerbuan di Temanggung, Jawa Tengah, Rabu (12/8/2009) besok. Identitas jenazah yang diduga Noordin M Top ini masih simpang siur.

"Besok rekan-rekan ditunggu pukul 09.00 WIB di RS Polri Kramat Jati. Kita akan umumkan siapa yang bersangkutan itu," kata Kadiv humas Mabes Polri Irjen Pol Nanan Soekarna di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan, Selasa (11/8/2009).

Selain itu, lajut Nanan, polisi juga akan menyerahkan jenazah tersebut kepada keluarganya. "Besok akan dijelaskan hasil indentifikasi dan tes DNA," katanya.

Namun Nanan menolak menyebutkan identitas jenazah tersebut. "Besok baru tahu setelah dokter menuntaskan. Kedokteran bilang besok pagi baru selesai," katanya.

Saat ini masih tiga jenazah tersangka teroris yang tersimpan di RS Polri. Mereka adalah Air Setiawan dan Eko Joko Sarjono (Eko Peyang) dan seorang jenazah yang tewas ditembak di Temanggung.

Jenazah yang tewas di Temanggung ini awalnya diduga Noordin M Top. Namun belakangan kematian Noordin diragukan banyak pihak.

(nal/iy)
Selasa, 11/08/2009 16:47 WIB
Jejak SJ di Kahuripan
Kisah Protes Salawat dan Diulangnya Salat Idul Adha
Arifin Asydhad, Gagah Wijoseno - detikNews

Jakarta - Saifuddin Jaelani (SJ) memang dikenal sebagai ustad yang memiliki ilmu tinggi. Namun, dia pernah diprotes saat menjadi khotib salat Jumat. Gara-gara ketelitian SJ, salat Idul Adha di Masjid Raya Telaga Kahuripan juga harus diulang.

Selain menjadi imam di Masjid As Surur di gugus Candraloka, SJ juga diminta menjadi khatib di Masjid Raya Telaga Kahuripan. Dia juga pernah diminta menjadi penceramah di Masjid At Taubah Taman Ganesha.

Suatu siang di hari Jumat pada 2008 lalu, SJ kebagian giliran menjadi khotib salat Jumat. Seperti biasa dengan khotib lain, setelah mengucapkan salam dan puji-pujian bagi Allah, SJ pun mengucapkan salawat.

"Salawat ini termasuk rukun khutbah. Namun, saat itu SJ mengucapkan salawat tidak seperti lafal biasanya. Jadinya membuat ramai jamaah," kata salah seorang jamaah Masjid Raya Telaga Kahuripan kepada detikcom, Selasa (11/8/2009).

Biasanya bunyi salawat adalah sebagai berikut: Allahumma salli ala Muhammad wa ala alihi wasahbihi ajmain. Namun, SJ saat mengucapkan: 'Allahumma salli ala nabiyyil akhiril zaman'.

Salawat SJ ini cukup membuat geger jamaah. Karena, pada saat itu, ada sejumlah jamaah yang kemudian salat Jumat sendiri, karena tidak yakin bahwa ibadah salat Jumat yang dia lakukan sah.

"Namun, akhirnya geger soal salawat ini bisa diredam. Sejumlah ustad mendatangi rumah SJ untuk klarifikasi. Dan SJ saat itu menyampaikan bahwa dari sisi arti, salawat yang ia sampaikan itu sama. SJ pun meminta maaf. Perkara selesai," ujar dia.

Beberapa hari setelah itu, tibalah Hari Idul Adha 1429 H. Salat Idul Adha sekompleks Telaga Kahuripan disatukan di Masjid Raya Telaga Kahuripan. Kebetulan saat itu, Ketua Yayasan Masjid Raya Telaga Kahuripan Ustad Yusnar menjadi imam salat.

Nah, saat rakaat kedua, Ustad Yunar lupa membaca surat Al Fatihah. Ada beberapa jamaah di shaf bagian depan mengingatkan, namun Ustad Yusnar tidak mendengar. Akhirnya, salat tetap berlanjut hingga salam. Setelah itu, khotib yang didatangkan dari Pondok Pesantren di Parung naik mimbar. Khotib pun memulai khutbah.

Di sinilah peran SJ. Dia kemudian memberitahu kepada takmir masjid bahwa salat Idul Adha yang baru saja dilakukan tidak menggunakan Al Fatihah di rakaat kedua. Menurut SJ, salat tanpa Al Fatihah tidak sah, sehingga harus diulang.

Lantas takmir memberitahu imam bahwa salat harus diulang karena tidak ada bacaan Al Fatihah pada rakaat kedua. Imam setuju dan khotib pun turun mimbar. Imam kemudian memimpin salat Idul Adha untuk kedua kalinya. "Ini sejarah baru di Kahuripan, baru kali ini ada salat Idul Adha diulang," kata seorang warga yang tinggal di Kahuripan sejak tahun 2000.

Begitulah salah satu jejak SJ. Di Kahuripan, dia kenal sebagai penceramah yang handal. Ceramahnya datar-datar saja, tidak menggebu-gebu. "SJ bahkan pernah disandingkan dengan seorang ustad yang sangat jago di sini. SJ bisa mengimbangi," kata seorang jamaah lainnya.

Namun, kesan terhadap SJ yang begitu memesona sirna begitu saja setelah seorang pria berinisial SJ diburu polisi karena terlibat kasus bom Marriott dan Ritz-Carlton. SJ disebut Kapolri sebagai perekrut Dani Dwi Permana, pelaku bom bunuh diri di JW Marriott. SJ yang dimaksud, adalah Saifuddin Jaelani, yang dekat dengaDani, remaja berusia 18 tahun.
(asy/nrl)
Selasa, 11/08/2009 16:54 WIB
Cari Teroris, Densus 88 Sempat Obok-obok Yogya
Bagus Kurniawan - detikNews

dok detikcom (reuters)
Jakarta - Pasca penangkapan teroris di Kedu, Temanggung, Densus 88 sempat mengobok-obok wilayah Yogyakarta. Wilayah yang didatangi adalah di kawasan Desa Srimulyo, Kecamatan Piyungan Bantul, dan Desa Gayamharjo, Kecamatan Prambanan Sleman yang berbatasan dengan Kecamatan Prambanan, Klaten Jawa Tengah.

Namun hingga hari ini, Selasa (11/8/2009) tidak ada yang mengetahui, siapa yang ditangkap oleh aparat di wilayah itu. Di dua wilayah itu, tidak ada satupun warga yang mengaku kehilangan salah satu anggota keluarganya.

Saat detikcom bersama sejumlah wartawan mendatangi wilayah Srimartani Kecamatan Piyungan Bantul yang berbatasan dengan Desa Wukirharjo Kecamatan Prambanan Sleman, pada hari Senin (10/8/2009) sekitar pukul 00.30 WIB sempat terdengar seperti bunyi letusan dari arah timur di kawasan perbukitan sebanyak dua kali. Namun tidak banyak warga yang mengetahui dan sampai sekarang belum ada laporan warga yang kehilangan anggota keluarganya.

Demikian pula di sekitar Desa Gayamharjo, Prambanan Sleman hingga Dusun Watugajah, tidak ada warga yang hilang. Di kawasan itu merupakan daerah berbukit kapur dengan jarak rumah penduduk satu dengan yang lain yang berjauhan dan merupakan daerah yang kekurangan air saat musim kemarau.

Akibat kabar tersebut, perangkat desa setempat sempat didatangi oleh anggota Polsek dan Koramil setempat maupun para wartawan. Penelusuran dilakukan hingga Dusun Serut, Sampang dan Watugajah Prambanan Klaten juga tidak informasi mengenai adanya penangkapan pelaku terorisme di tempat itu.

"Di sini memang ada pondok pesantren, tapi santrinya juga sedikit jumlahnya hanya 15-an orang dan hanya warga sekitar saja. Sejak ada informasi itu kami selama dua hari terus didatangi petugas dan ditanya berbagai macam," kata salah seorang tokoh agama Prambanan Sonaji.

(bgs/djo)
Selasa, 11/08/2009 17:06 WIB
Komandan Paspampres Yakinkan Peringatan 17 Agustus di Istana Aman
Anwar Khumaini - detikNews

Jakarta - Para teroris membidik Istana Negara sebagai sasaran peledakan pada peringatan kemerdekaan 17 Agustus mendatang. Komandan Paspampres Mayjen Marciano Norman memastikan, Paspampres siap menjaga keamanan peringatan HUT RI ke-64 tersebut.

"Kita sebagai tuan rumah harus menjamin bahwa kegiatan itu aman. Tidak hanya Paspampres saja (yang bertanggung jawab), tadi anda lihat dari Kodam Jaya, Polda Metro Jaya, mereka juga laksanakan kegiatan itu secara optimal," ujar Marciano di Istana Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Selasa (11/8/2009).

Paspampres, menurut Marciano telah melakukan evaluasi menyeluruh terkait pengamanan terhadap presiden selama ini, terlebih pasca-ditangkapnya teroris di Temanggung serta ditemukannya bahan peledak yang diduga akan diledakkan di kediaman SBY di Cikeas. Hasil evaluasi tersebut dilaporkan ke Panglima TNI dan hasilnya Paspampres diminta untuk lebih mengoptimalkan kinerjanya.

"Dalam beberapa hari ke depan kita melakukan kegiatan yang besar, yaitu rangkaian kegiatan 17 Agustus di istana ini. Dan kita semua harus meyakinkan bahwa kegiatan ini bisa berjalan dengan lancar dan aman," jelasnya.

Selama ini, Paspampres menurut Marciano telah mempunyai standar pengamanan yang tetap, dan itu akan terus dipertahankan dengan tidak akan menguranginya dalam kondisi apa pun. "Tapi kita harus berpikir kondisi yang terburuk," imbuhnya.

Secara khusus, Panglima TNI telah memberi instruksi khusus, yakni semua peralatan yang ada supaya digunakan dengan seoptimal mungkin agar kemungkinan-kemungkinan terburuk bisa dihindari.

(anw/mad)
Selasa, 11/08/2009 17:11 WIB
Perburuan Teroris
Polri & KPI Harap Pola Pemberitaan Televisi Tak Mendramatisir
Didit Tri Kertapati - detikNews

Jakarta - Operasi perburuan teroris mendapat liputan luas dari media elektronik utamanya televisi. Mabes Polri dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) berharap stasiun televisi tidak mendramatisir situasi.

"Diharapkan pola pemberitaan bukan untuk mendramatisir. Tapi untuk memberikan pencerahan. Menjaga pemberitaan dalam proses upaya Kepolisian," kata Ketua KPI Sasa Djuarsa usai pertemuan sejumlah pimpinan stasiun televisi dengan Kapolri di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Selasa (11/8/2009).

Dilanjutkan Sasa, semua pihak yang hadir dalam pertemuan telah membangun kesepahaman bersama untuk bahu membahu menghadapi terorisme. Persoalan muncul apabila pola pemberitaan yang tersiar tidak menguntungkan upaya memerangi aksi kejam itu.

"Misalnya mengenai dugaan yang belum tentu benar yang membingungkan masyarakat," kata dia.

Sementara itu, Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Nanan Soekarna mengatakan, Polri dan KPI mengingatkan agar pengelola stasiun televisi kembali ke standar KPI dalam menayangkan berita mengenai terorisme.

"Polisi dengan KPI mengingatkan kepada media elektronik, televisi, tentang standar penayangan yang diatur sesuai dengan peraturan KPI," kata dia.

Menurut Nanan, Polri akan menindak anggotanya yang membocorkan informasi seputar penyidikan terorisme.

"Saya minta informasi siapa yang membocorkan. Ayo sama-sama kita tindak," pungkasnya.

(irw/nrl)
Selasa, 11/08/2009 17:45 WIB
Ibrohim Makin Santer Disebut Sebagai Teroris yang Tewas di Temanggung
E Mei Amelia R - detikNews

Jakarta - Makin kuat indikasi bahwa teroris yang digerebek dan diberondong peluru di Temanggung bukanlah Noordin M Top. Lantas siapa? Dua orang yang disebut-sebut: Reno alias Tedi atau Ibrohim. Tapi nama Ibrohim makin santer disebut.

Memang, hingga saat ini polisi masih tutup mulut. Kemungkinan teroris yang tewas adalah Reno atau Ibrohim juga masih sangat-sangat sumir. Kepastian siapa teroris yang tewas di Temanggung baru akan diumumkan Polri Rabu (12/8/2009).

Saat ditanya bahwa nama suaminya disebut-sebut sebagai orang yang ditembak polisi di Temanggung, istri Ibrohim, Suci Hani, hanya bisa menangis. "Kenapa suami saya ada di sana?" ujar dia saat dihubungi detikcom, Selasa (11/8/2009).

Keberadaan Ibrohim hingga kini memang masih misterius. Nama ayah 4 anak yang juga florist di sebuah flower shop di Hotel Ritz-Carlton ini diduga kuat masuk jaringan Noordin M Top.

Nama Ibrohim mencuat, karena diduga kuat dia yang membantu masuk, meloloskan bahan-bahan peledak sehingga para 'pengantin' atau pengebom bunuh diri bisa beraksi di JW Marriott dan di Ritz-Carlton pada 17 Juli 2009 lalu.

Pria 36 tahun ini berdasarkan pengakuan teman-temannya diketahui sempat meninggalkan wasiat dan mengajukan pengunduran diri sesaat sebelum bom meledak. Dia terlihat lari dengan membawa tas.

Ibrohim lahir di Jakarta pada 6 Mei 1972, memiliki badan tegap dan berkulit putih bersih. Selama bekerja di Jakarta dia tinggal di sebuah kontrakan bersama rekan-rekan kerjanya, sedang anak dan istrinya tinggal di Cilimus, Kuningan, Jawa Barat.

Ibrohim seperti disebutkan Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri adalah salah satu calon pengantin rekrutan Noordin. Banyak beredar kabar mengenai Ibrohim ini. Ada pihak yang menyebutkan dia ditangkap di Plaza FX Sudirman, saat membawa bahan peledak di hari naas bom meledak di kedua hotel tersebut.

4 Pria meringkus orang yang diduga Ibrohim itu, begitu sang florist melangkah masuk ke dalam mal. Tapi sumber resmi kepolisian menolak keterangan ini, Ibrohim masih diburu.

Jejak Ibrohim, kemudian sempat terlacak di Cilacap, Jawa Tengah, ponselnya terekam menghubungi nomor sebuah rumah di kota itu. Kemudian tidak lama, jejak Ibrohim sempat terendus di Garut, Jawa Barat. Isu beredar Ibrohim sebenarnya sedang dibawa untuk menunjukkan rekan-rekannya.

Pengamat intelijen Dynno Chressbon menyebut bila Ibrohim masuk jaringan Darul Islam, wilayah Jakarta. Dia berkolaborasi dengan kelompok Noordin M Top.

Ibrohim yang pernah tinggal di Cililitan, Jakarta Timur dan Depok ini, kemudian ditengarai sebagai pria yang tewas di Temanggung, Jawa Tengah. Juru bicara keluarga Noordin M Top di Malaysia, Badarudin Ismail mengaku mendapat informasi dari polisi yang menyatakan jenazah bukan Noordin. Jenazah itu diduga Ibrohim atau Reno. (ndr/iy)



Selasa, 11/08/2009 12:50 WIB
Penggerebekan di Temanggung
Jenazah Diduga Ibrohim, Istri Nangis-nangis
Chazizah Gusnita - detikNews

Jakarta - Sucihani menangis tersedu-sedu. Ia tidak tahu suaminya, Ibrohim, diduga sebagai tersangka teroris yang tewas dalam penyergapan di Temanggung, Jawa Tengah.

Sucihani belum menerima informasi apapun dari pihak kepolisian khususnya Densus 88. "Belum tahu. Belum ada," kata Sucihani sambil menangis kepada detikcom, Selasa (11/8/2009).

Ibrohim adalah florist Hotel Ritz-Carlton yang menghilang pasca bom meledak di hotel mewah itu. Polisi memburu Ibrohim karena diduga terkait aksi bom yang menewaskan 9 orang itu.

Dugaan Ibrohim merupakan pria yang tewas di Temanggung disampaikan Juru Bicara keluarga Noordin M Top, Badarudin Ismail. Badarudin mengatakan mayat tersangka teroris itu bukan Noordin karena tidak cocok dengan DNA anak Noordin.

Badarudin mendapat informasi dari polisi Indonesia mayat itu antara Ibrohim atau Reno yang adalah murid Dr Azahari yang paling jago membuat bom.

Sucihani mengaku sama sekali tidak mengetahui mengapa suaminya bisa ada di Temanggung kalau memang benar yang tewas tersebut adalah Ibrohim.

"Kok suami saya bisa ada di situ? Saya itu nggak habir pikir kenapa suami saya kok ada di situ," ujarnya.

Sucihani yang tinggal di Kuningan, Jawa Barat ini, masih belum tahu apakah dirinya akan datang ke RS Polri Soekanto Kramat Jati, Jakarta untuk mengecek kebenarannya.

"Nggak tahu. Saya belum mau lihat televisi," tuturnya.

(gus/iy)
Selasa, 11/08/2009 12:51 WIB
Noordin M Top Tewas?
PDIP: Polri Jangan Terpengaruh Media Asing
Elvan Dany Sutrisno - detikNews

reuters
Jakarta - Polri diminta jangan terpengaruh media asing yang memberitakan hasil tes forensik memastikan bukan Noordin M Top yang tewas di Temanggung, Jawa Tengah. Polri harus cermat menentukan apakah Noordin sudah tewas.

"Polri perlu cermat dalam menentukan apakah yang tertembak itu Noordin atau bukan, tidak terpengaruh media asing, dan segera mempublikasikan hasil otopsi," ujar Ketua Fraksi PDIP Tjahjo Kumolo dalam pesan singkat kepada detikcom, Selasa (11/8/2009).

Tjahjo juga meminta publik mengapresiakan keberhasilan Polri dalam menumpas teroris. Setidaknya ketegangan dan kecemasan masyarakat terjawab. "Kita perlu apresiasi dan patut memberi penghargaan," imbuh dia.

Meski demikian, Polri harus terus mengantisipasi jaringan teroris selanjutnya. Publik juga harus mendukung langkah Polri.

"Masyarakat perlu mendukung langkah antisipasi ini dengan berani menyatakan sikap siapa kawan siapa lawan terhadap teroris," kata dia.

Media asing dari sumber kepolisian merilis berdasarkan hasil tes forensik terhadap DNA, sidik jari dan rambut, jenazah teroris yang tewas di Temanggung, Jawa Tengah, bukan Noordin M Top.

Sampel diambil dari putra Noordin yang berada di Riau. Sementara polisi akan mengumumkan hasilnya dalam 3 hari ke depan.

(nik/iy)
Selasa, 11/08/2009 12:52 WIB
Telantarkan Istri & Anak di Johor
Jangan Tanya Ke Mana Aku Pergi, Kata Terakhir Noordin
Rachmadin Ismail - detikNews

Johor Baru - Demi melancarkan aksinya, buronan paling dicari, Noordin M Top, rela menelantarkan istri dan 3 orang anaknya yang berada di Malaysia. Kontak terakhir yang dilakukan keluarga adalah 8 tahun lalu.

Mertua Noordin di Malaysia, Rusdi Hamid, mengatakan, Noordin memiliki 3 orang anak yang tinggal di Kampung Sg Tiram, Johor Baru, Malaysia. Mereka masih berusia 10 tahun, 9 tahun, dan 8 tahun.

"Jangan tanya ke mana aku pergi, adalah kata-kata terakhir Noordin kepada istrinya," kata Rusdi seperti dilansir The Star, Selasa (11/8/2009).

Menurut Rusdi, Noordin juga tidak meninggalkan sepeser pun uang bagi keluarganya. "Dia pergi tanpa pesan," ucapnya lirih.

Sepeninggal Noordin, istri dan 3 orang anaknya diurus oleh Rusdi. Penghasilan tambahan juga diperoleh istri Noordin dari pekerjaannya sebagai guru ngaji.

"Kami berusaha bertahan dengan segala musibah yang terjadi selama beberapa tahun ini," tegasnya.

Untungnya, tetangga di Johor Baru bersikap baik pada keluarganya. Rusdi mengaku sangat terbantu dengan dukungan moral para penduduk sekitar.

Istri Noordin yang tinggal di Johor bernama Siti Rahma. Bersama Siti, Noordin mendarat ke Riau, ketika aparat Malaysia melancarkan operasi besar-besaran untuk memberangus jaringan Jamaah Islamiyah (JI) pasca serangan WTC 11 September 2001. (mad/nrl)
Selasa, 11/08/2009 13:02 WIB
Istri Lega Jenazah Teroris di Temanggung Bukan Noordin
Ken Yunita - detikNews

Jakarta - Keluarga Noordin M Top di Malaysia menerima kabar dari polisi bila tersangka teroris yang tewas di Temanggung, Jawa Tengah bukanlah Noordin. Mendengar itu, istri Noordin di Johor, Malaysia, Rahma, mengaku lega.

"Ya istrinya (Rahma) lega juga," kata juru bicara keluarga Noordin M Top, Badarudin Ismail saat berbincang dengan detikcom, Selasa (11/8/2009).

Jika laki-laki tersebut memang bukan Noordin, Rahma pun yakin suaminya masih hidup. Dia pun berharap, suaminya yang telah tidak ditemuinya sejak tahun 2002 itu dapat ditangkap dalam keadaan hidup sehingga dapat memberi keterangan.

"Kan kalau masih hidup dia bisa membela diri. Bisa beri keterangan kenapa dia lakukan itu. Apa dia marah dengan pemerintah atau sama siapa," kata Badarudin.

Noordin telah meninggalkan istrinya, Rahmah dan ketiga anaknya Muawwids, Labibah dan Hafzah sejak tahun 2002. Bahkan saat itu, putri ketiganya itu masih dalam kandungan.

Meski sempat sedih, Rahmah sudah dapat menerima kondisi ini. Namun anak pertama Noordin kerap mengurung diri dengan berbagai pemberitaan soal ayahnya.

"Pokoknya keluarga akan membantu semaksimal mungkin untuk memastikan ini (Noordin atau bukan)," kata Badarudin. (ken/iy)
Selasa, 11/08/2009 13:10 WIB
Benda Mirip Bom di Garut Dibawa ke Mako Brimob Polda Jabar
Erna Mardiana - detikNews

Bandung - Benda yang diduga bom rakitan di rumah kontrakan di Kampung Ciharus RT 06 RW 02 Desa Cilembang Kecamatan Leles Kabupaten Garut, kini dibawa ke Markas Brimob Polda Jabar, Cikeruh, Kabupaten Sumedang. Dua paralon yang dibungkus kertas warna merah dan ada sumbunya itu akan diteliti.

Hal itu disampaikan Kapolwil Priangan Kombes Pol Anton Charlian melalui pesan singkatnya yang diterima detikcom, Selasa (11/8/2009).

"Kita amankan dua buah HT dan dua paralon kecil yang dibungkus kertas merah dan ada sumbunya," ujar Anton.

Temuan benda mencurigakan itu, kata Anton, berawal dari pemilik kontrakan AY yang membersihkan rumah kontrakannya pada Senin 10 Agustus pukul 15.00 WIB kemarin.

"Rumah kontrakan itu disewa selama 1 tahun dan sudah dibayarkan dari bulan Oktober 2008 hingga Januari 2009. Namun sampai sekarang barang si pengontrak yaitu IT dan HY masih ada," tuturnya.

(ern/irw)

Selasa, 11/08/2009 13:23 WIB
Amien Rais: Presiden Sasaran Empuk Teroris
Bagus Kurniawan - detikNews

Yogyakarta - Presiden hampir di semua negara merupakan sasaran paling menarik bagi para teroris. Ancaman terhadap Presiden SBY itu harus diambil sisi positifnya dan tidak ada unsur politisasi.

Hal itu diungkapkan mantan Ketua MPR Amien Rais kepada wartawan seusai menghadiri Grand Opening Golden Geriatric Club Budi Mulia Dua di Terban Blimbingsari, Yogyakarta, Selasa (11/8/2009).

"Saya menilai itu sebuah langkah preventif dan kita ambil sisi positifnya. Menjadi presiden di mana-mana itu menjadi paling menarik bagi para teroris," kata Amien.

Dia kemudian mencontohkan tewasnya Presiden AS Kennedy, Presiden Indonesia pertama Bung Karno yang juga pernah dua kali akan dicederai. Selanjutnya Perdana Menteri India Indira Gandhi, PM Pakistan Benazir Bhutto juga tewas. Bahkan Presiden Obama sekarang inipun juga sering menerima ancaman teror.

"Jadi kalau sekarang ini ada ancaman pada Pak Yudhoyono itu bukan bohong-bohongan," kata Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Gadjah Mada itu.

Amien juga tidak setuju bila ancaman terhadap presiden seperti yang diungkapkan Kapolri itu sebagai bagian dari politisasi. Laporan itu juga berdasarkan fakta dan bukti-bukti yang mengarah pada ancaman keselamatan terhadap presiden.

Oleh karena itu hasil diambil sisi positifnya agar aparat meningkatkan kewaspdaaan untuk melindungi presiden sebagai kepala negara dan obyek-obyek sasaran lain.

"Memang ada yang memandang itu politisasi. Tapi saya kira, politisasi itu sudah usai. Pilpres sudah selesai, sudah ketahuan hasilnya. Jadi kalau politisasi itu saya tidak gampang menangkap dimana politisasinya. Saya menilai ini sebuah langkah preventif saja," pungkas dia.
(bgs/irw)
Selasa, 11/08/2009 13:28 WIB
Otopsi 3 Jenazah Teroris di RS Polri Sudah Selesai
Reza Yunanto - detikNews

Jakarta - RS Polri Sukanto Kramat Jati telah menyelesaikan otopsi terhadap tiga jenazah tersangka teroris yang tewas di Temanggung dan Jatiasih, Bekasi. Hasilnya?

"Otopsi sudah tidak lagi, pemeriksaan terhadap jenazah sudah selesai. Tapi kita tidak bisa mengungkapkan (hasilnya), karena itu kewenangan penyidik," kata Kepala RS Polri Brigjen Polisi Aidi Rawas, di rumah sakit itu, Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (11/8/2009).

Aidi menjelaskan saat ini masih dilakukan uji DNA terhadap jenazah para teroris itu. Menurutnya pembanding untuk uji itu telah ada.

"Sekarang sedang dilaksanakan, bahan pembandingnya sudah ada," katanya.

Saat ini masih tiga jenazah tersangka teroris yang tersimpan di RS Polri. Mereka adalah Air Setiawan dan Eko Joko Sarjono (Eko Peyang) dan seorang jenazah yang tewas ditembak di Temanggung.

Jenazah yang tewas di Temanggung ini awalnya diduga Noordin M Top. Namun belakangan kematian Noordin diragukan banyak pihak.

Juru bicara keluarga Noordin di Malaysia, Badarudin Ismail mengaku pihak keluarga telah mendapat laporan dari polisi bahwa jenazah tersebut bukan Noordin. Diinformasikan jenazah itu diduga antara Ibrohim atau Reno.

(nal/iy)
Selasa, 11/08/2009 13:31 WIB
Penggerebekan Teroris
Kapolri & Panglima TNI Lapor SBY di Istana Negara
Anwar Khumaini - detikNews

Jakarta - Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri dan Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso menghadap Presiden SBY di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat.

Kedua jenderal itu diduga akan melaporkan perkembangan terbaru pasca penggerebekan teroris di Bekasi dan Temanggung, Jawa Tengah.

Kapolri tiba di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat sekitar pukul 13.10 WIB, Selasa (11/8/2009). Dia ditemani ajudan dan pengawal pribadinya. Sedangkan Panglima TNI datang lebih dulu.

Tidak seperti biasanya SBY menerima Kapolri dan Panglima TNI di Istana Negara. Padahal SBY biasa menerima para menteri dan pejabat tinggi negara lain di Kantor Presiden.

Kedatangan Kapolri dan Panglima TNI ini juga tidak dijadwalkan. Biro Pers dan Media Presiden tidak memberikan jadwal kedatangan Kapolri.

Hingga pukul 13.20 WIB Kapolri dan Panglima TNI masih melakukan pertemuan tertutup dengan SBY.

SBY sendiri tiba di Istana Presiden sekitar pukul 12.00 WIB dari kediaman pribadinya di Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat. SBY tiba bersama Ibu Ani Yudhoyono. (nik/nrl)
Selasa, 11/08/2009 13:38 WIB
Bom Marriott & Ritz-Carlton
Dani: Islam Sudah Hancur, Harus Dibela dengan Jihad
Anwar Hidayat - detikNews

dok detikcom
Bogor - Di mata Dani Dwi Permana, pemuda yang disebut Polri sebagai pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriott, agama Islam saat ini sedang dilanda kehancuran. Karena itu, Dani ingin membela Islam dengan jalan berjihad.

Hal tersebut diungkapkan Dani kepada Muhammad Ali, teman dekatnya saat masih bersekolah di SMA Yadika 7, Jl Kemang, Kabupaten, Bogor, Jawa Barat. Mereka berdua sama-sama aktif di organisasi ekstrakurikuler Rohani Islam (Rohis).

"Belakangan Dani sering mengajak jihad. Terakhir Dani bilang Islam itu sudah hancur sekarang, dan kita harus membelanya dengan jihad," cerita Ali tentang ajakan jihad Dani ketika menjelang kelulusan sekolah. Ali menceritakan hal itu saat ditemui di rumahnya, Kampung Jati, Parung, Bogor, Selasa (11/8/2009).

Menurut Ali, dirinya hanya menganggap enteng omongan Dani saat itu. Dia menilai, Dani tidak akan pernah serius dengan kata-katanya itu. "Saya cuma ketawa ketika Dani bilang mau ngajak jihad," tutur Ali.

Di mata Ali, Dani adalah kawan yang baik dan cerdas. Meski sama-sama pernah menjabat sebagai ketua Rohis SMA Yadika 7, Ali mengakui, pengetahuan agama Islamnya masih di bawah Dani.

"Dani itu lebih tahu dan hapal sejarah-sejarah Islam daripada saya," tutur Ali.

Masih menurut Ali, aktivitas Dani di Rohis sempat mengendur setelah tak menjadi ketua Rohis. Namun menjelang kelulusan, Dani kembali aktif lagi.

"Salat sunahnya lebih rajin. Kita sering ketemu kalau sedang melaksanakan salat Dhuha di musala sekolah," ungkap Ali.
(djo/djo)
Selasa, 11/08/2009 13:40 WIB
Penggerebakan di Temanggung
Istri Aris Cari Bantuan Hukum TPM ke Solo
Parwito - detikNews

Reuters
Tumenggung - Indrayati, istri Aris (tersangka teroris yang ditangkap di Temanggung), berusaha mencari bantuan hukum hingga ke Solo. Ia berharap Tim Pembela Muslim (TPM) yang berkantor di sana, bisa membantu suaminya.

"Sejak semalam sudah berangkat ke Solo untuk meminta bantuan upaya hukum," kata ayah Aris, Utomo, kepada wartawan di rumahnya, di Desa Kedu, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Selasa (11/8/2009).

Langkah Indaryati dilakukan karena ia mendengar kabar bahwa TPM berkantor di Solo. Menurut Utomo, ia pergi ke lokasi tersebut bersama temannya.

Utomo berharap, TPM bisa segera membantu anaknya untuk dibebaskan. Ia merasa Aris tidak bersalah, apalagi dituduh menjadi teroris.

"Sebagai ayahnya saya berharap bisa bertemu dengan Tim Pembela Muslim supaya bisa mengembalikan Aris yang dibawa Densus 88 dari Temanggung," jelasnya.

Aris dan Indra ditangkap di Temanggung karena dituduh menyembunyikan seseorang yang diduga Noordin M Top di kediaman paman mereka, Djahri. Keduanya saat ini sudah ditahan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, untuk dimintai keterangan.

(mad/nrl)
Selasa, 11/08/2009 13:55 WIB
Noordin Anak ke-13 Dari Keluarga Moch Top
Ken Yunita - detikNews

Jakarta - Noordin M Top, menjadi orang paling dicari setelah sejumlah aksi pengemboman di Indonesia sejak 2002. Asal usul pria berbadan besar itu juga banyak dicari.

Menurut juru bicara keluarga di Malaysia, Badarudin Ismail, seperti banyak diberitakan, Noordin memang lahir di Kluang Johor, 11 Agustus 1969 silam. M Top di belakang nama Noordin berasal dari ayahnya Moch Top.

"Ayahnya itu bernama Moch Top sudah meninggal lama," kata Badarudin saat berbincang dengan detikcom, Selasa (11/8/2009).

Menurut Badarudin, Noordin adalah anak bungsu dari 13 bersaudara. Saat ini, kakak-kakak Noordin tinggal di berbagai penjuru Malaysia.

"Dia itu anak terkecil dari 13, kakak-kakaknya ada yang di Johor, ada yang di Kuala Lumpur. Namanya cari makan kan berpencar-pencar," kata Badarudin sambil tertawa.

Saat ini, baik keluarga Noordin maupun istrinya, Rahma menjadi sorotan baik masyarakat Indonesia ataupun Malaysia. Menurut Badarudin, keluarga pria yang dituduh gembong teroris paling dicari itu ketakutan.

"Mereka itu takut kalau ngomong, karena mereka juga tidak tahu kabar Noordin sejak bertahun-tahun," katanya.

Namun, istri Noordin mengaku tidak keberatan untuk membantu polisi untuk kasus suaminya. "Mereka akan bantu semampu mereka," kata Badarudin.

Sebelum menghilang, Noordin mendapat gelar sarjana dari University Teknologi Malaysia (UTM). Noordin mulai mengenal gerakan Jamaah Islamiyah (JI) saat mengajar di Ponpes Luqmanul Hakiem di Johor.

Saat Malaysia melakukan penggerebekan besar-besaran pada anggota JI pasca serangan WTC 11 September 2001 , Noordin dan sahabatnya yang dikenal sebagai ahli bom, Dr Azahari, kabur ke Indonesia. Saat itu, Noordin juga membawa istrinya, Rahma.

Setelah itu, Noordin menghilang sembari mematangkan plot terornya. Belakangan dia diketahui menikahi Munfiatun di Pasuruan pada 2004. Setelah itu Noordin menghilang lagi dan disebut-sebut menikahi Arina, warga Cilacap.

Di jaringan JI, Noordin dikenal sebagai perekrut ulung dan pendanaan. Bersama Dr Azahari, Noordin disebut sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas sejumlah peledakan di Indonesia sejak 2002 silam. (ken/iy)