Sabtu, 15 Agustus 2009

Selasa, 11/08/2009 12:50 WIB
Penggerebekan di Temanggung
Jenazah Diduga Ibrohim, Istri Nangis-nangis
Chazizah Gusnita - detikNews

Jakarta - Sucihani menangis tersedu-sedu. Ia tidak tahu suaminya, Ibrohim, diduga sebagai tersangka teroris yang tewas dalam penyergapan di Temanggung, Jawa Tengah.

Sucihani belum menerima informasi apapun dari pihak kepolisian khususnya Densus 88. "Belum tahu. Belum ada," kata Sucihani sambil menangis kepada detikcom, Selasa (11/8/2009).

Ibrohim adalah florist Hotel Ritz-Carlton yang menghilang pasca bom meledak di hotel mewah itu. Polisi memburu Ibrohim karena diduga terkait aksi bom yang menewaskan 9 orang itu.

Dugaan Ibrohim merupakan pria yang tewas di Temanggung disampaikan Juru Bicara keluarga Noordin M Top, Badarudin Ismail. Badarudin mengatakan mayat tersangka teroris itu bukan Noordin karena tidak cocok dengan DNA anak Noordin.

Badarudin mendapat informasi dari polisi Indonesia mayat itu antara Ibrohim atau Reno yang adalah murid Dr Azahari yang paling jago membuat bom.

Sucihani mengaku sama sekali tidak mengetahui mengapa suaminya bisa ada di Temanggung kalau memang benar yang tewas tersebut adalah Ibrohim.

"Kok suami saya bisa ada di situ? Saya itu nggak habir pikir kenapa suami saya kok ada di situ," ujarnya.

Sucihani yang tinggal di Kuningan, Jawa Barat ini, masih belum tahu apakah dirinya akan datang ke RS Polri Soekanto Kramat Jati, Jakarta untuk mengecek kebenarannya.

"Nggak tahu. Saya belum mau lihat televisi," tuturnya.

(gus/iy)
Selasa, 11/08/2009 12:51 WIB
Noordin M Top Tewas?
PDIP: Polri Jangan Terpengaruh Media Asing
Elvan Dany Sutrisno - detikNews

reuters
Jakarta - Polri diminta jangan terpengaruh media asing yang memberitakan hasil tes forensik memastikan bukan Noordin M Top yang tewas di Temanggung, Jawa Tengah. Polri harus cermat menentukan apakah Noordin sudah tewas.

"Polri perlu cermat dalam menentukan apakah yang tertembak itu Noordin atau bukan, tidak terpengaruh media asing, dan segera mempublikasikan hasil otopsi," ujar Ketua Fraksi PDIP Tjahjo Kumolo dalam pesan singkat kepada detikcom, Selasa (11/8/2009).

Tjahjo juga meminta publik mengapresiakan keberhasilan Polri dalam menumpas teroris. Setidaknya ketegangan dan kecemasan masyarakat terjawab. "Kita perlu apresiasi dan patut memberi penghargaan," imbuh dia.

Meski demikian, Polri harus terus mengantisipasi jaringan teroris selanjutnya. Publik juga harus mendukung langkah Polri.

"Masyarakat perlu mendukung langkah antisipasi ini dengan berani menyatakan sikap siapa kawan siapa lawan terhadap teroris," kata dia.

Media asing dari sumber kepolisian merilis berdasarkan hasil tes forensik terhadap DNA, sidik jari dan rambut, jenazah teroris yang tewas di Temanggung, Jawa Tengah, bukan Noordin M Top.

Sampel diambil dari putra Noordin yang berada di Riau. Sementara polisi akan mengumumkan hasilnya dalam 3 hari ke depan.

(nik/iy)
Selasa, 11/08/2009 12:52 WIB
Telantarkan Istri & Anak di Johor
Jangan Tanya Ke Mana Aku Pergi, Kata Terakhir Noordin
Rachmadin Ismail - detikNews

Johor Baru - Demi melancarkan aksinya, buronan paling dicari, Noordin M Top, rela menelantarkan istri dan 3 orang anaknya yang berada di Malaysia. Kontak terakhir yang dilakukan keluarga adalah 8 tahun lalu.

Mertua Noordin di Malaysia, Rusdi Hamid, mengatakan, Noordin memiliki 3 orang anak yang tinggal di Kampung Sg Tiram, Johor Baru, Malaysia. Mereka masih berusia 10 tahun, 9 tahun, dan 8 tahun.

"Jangan tanya ke mana aku pergi, adalah kata-kata terakhir Noordin kepada istrinya," kata Rusdi seperti dilansir The Star, Selasa (11/8/2009).

Menurut Rusdi, Noordin juga tidak meninggalkan sepeser pun uang bagi keluarganya. "Dia pergi tanpa pesan," ucapnya lirih.

Sepeninggal Noordin, istri dan 3 orang anaknya diurus oleh Rusdi. Penghasilan tambahan juga diperoleh istri Noordin dari pekerjaannya sebagai guru ngaji.

"Kami berusaha bertahan dengan segala musibah yang terjadi selama beberapa tahun ini," tegasnya.

Untungnya, tetangga di Johor Baru bersikap baik pada keluarganya. Rusdi mengaku sangat terbantu dengan dukungan moral para penduduk sekitar.

Istri Noordin yang tinggal di Johor bernama Siti Rahma. Bersama Siti, Noordin mendarat ke Riau, ketika aparat Malaysia melancarkan operasi besar-besaran untuk memberangus jaringan Jamaah Islamiyah (JI) pasca serangan WTC 11 September 2001. (mad/nrl)
Selasa, 11/08/2009 13:02 WIB
Istri Lega Jenazah Teroris di Temanggung Bukan Noordin
Ken Yunita - detikNews

Jakarta - Keluarga Noordin M Top di Malaysia menerima kabar dari polisi bila tersangka teroris yang tewas di Temanggung, Jawa Tengah bukanlah Noordin. Mendengar itu, istri Noordin di Johor, Malaysia, Rahma, mengaku lega.

"Ya istrinya (Rahma) lega juga," kata juru bicara keluarga Noordin M Top, Badarudin Ismail saat berbincang dengan detikcom, Selasa (11/8/2009).

Jika laki-laki tersebut memang bukan Noordin, Rahma pun yakin suaminya masih hidup. Dia pun berharap, suaminya yang telah tidak ditemuinya sejak tahun 2002 itu dapat ditangkap dalam keadaan hidup sehingga dapat memberi keterangan.

"Kan kalau masih hidup dia bisa membela diri. Bisa beri keterangan kenapa dia lakukan itu. Apa dia marah dengan pemerintah atau sama siapa," kata Badarudin.

Noordin telah meninggalkan istrinya, Rahmah dan ketiga anaknya Muawwids, Labibah dan Hafzah sejak tahun 2002. Bahkan saat itu, putri ketiganya itu masih dalam kandungan.

Meski sempat sedih, Rahmah sudah dapat menerima kondisi ini. Namun anak pertama Noordin kerap mengurung diri dengan berbagai pemberitaan soal ayahnya.

"Pokoknya keluarga akan membantu semaksimal mungkin untuk memastikan ini (Noordin atau bukan)," kata Badarudin. (ken/iy)
Selasa, 11/08/2009 13:10 WIB
Benda Mirip Bom di Garut Dibawa ke Mako Brimob Polda Jabar
Erna Mardiana - detikNews

Bandung - Benda yang diduga bom rakitan di rumah kontrakan di Kampung Ciharus RT 06 RW 02 Desa Cilembang Kecamatan Leles Kabupaten Garut, kini dibawa ke Markas Brimob Polda Jabar, Cikeruh, Kabupaten Sumedang. Dua paralon yang dibungkus kertas warna merah dan ada sumbunya itu akan diteliti.

Hal itu disampaikan Kapolwil Priangan Kombes Pol Anton Charlian melalui pesan singkatnya yang diterima detikcom, Selasa (11/8/2009).

"Kita amankan dua buah HT dan dua paralon kecil yang dibungkus kertas merah dan ada sumbunya," ujar Anton.

Temuan benda mencurigakan itu, kata Anton, berawal dari pemilik kontrakan AY yang membersihkan rumah kontrakannya pada Senin 10 Agustus pukul 15.00 WIB kemarin.

"Rumah kontrakan itu disewa selama 1 tahun dan sudah dibayarkan dari bulan Oktober 2008 hingga Januari 2009. Namun sampai sekarang barang si pengontrak yaitu IT dan HY masih ada," tuturnya.

(ern/irw)

Selasa, 11/08/2009 13:23 WIB
Amien Rais: Presiden Sasaran Empuk Teroris
Bagus Kurniawan - detikNews

Yogyakarta - Presiden hampir di semua negara merupakan sasaran paling menarik bagi para teroris. Ancaman terhadap Presiden SBY itu harus diambil sisi positifnya dan tidak ada unsur politisasi.

Hal itu diungkapkan mantan Ketua MPR Amien Rais kepada wartawan seusai menghadiri Grand Opening Golden Geriatric Club Budi Mulia Dua di Terban Blimbingsari, Yogyakarta, Selasa (11/8/2009).

"Saya menilai itu sebuah langkah preventif dan kita ambil sisi positifnya. Menjadi presiden di mana-mana itu menjadi paling menarik bagi para teroris," kata Amien.

Dia kemudian mencontohkan tewasnya Presiden AS Kennedy, Presiden Indonesia pertama Bung Karno yang juga pernah dua kali akan dicederai. Selanjutnya Perdana Menteri India Indira Gandhi, PM Pakistan Benazir Bhutto juga tewas. Bahkan Presiden Obama sekarang inipun juga sering menerima ancaman teror.

"Jadi kalau sekarang ini ada ancaman pada Pak Yudhoyono itu bukan bohong-bohongan," kata Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Gadjah Mada itu.

Amien juga tidak setuju bila ancaman terhadap presiden seperti yang diungkapkan Kapolri itu sebagai bagian dari politisasi. Laporan itu juga berdasarkan fakta dan bukti-bukti yang mengarah pada ancaman keselamatan terhadap presiden.

Oleh karena itu hasil diambil sisi positifnya agar aparat meningkatkan kewaspdaaan untuk melindungi presiden sebagai kepala negara dan obyek-obyek sasaran lain.

"Memang ada yang memandang itu politisasi. Tapi saya kira, politisasi itu sudah usai. Pilpres sudah selesai, sudah ketahuan hasilnya. Jadi kalau politisasi itu saya tidak gampang menangkap dimana politisasinya. Saya menilai ini sebuah langkah preventif saja," pungkas dia.
(bgs/irw)
Selasa, 11/08/2009 13:28 WIB
Otopsi 3 Jenazah Teroris di RS Polri Sudah Selesai
Reza Yunanto - detikNews

Jakarta - RS Polri Sukanto Kramat Jati telah menyelesaikan otopsi terhadap tiga jenazah tersangka teroris yang tewas di Temanggung dan Jatiasih, Bekasi. Hasilnya?

"Otopsi sudah tidak lagi, pemeriksaan terhadap jenazah sudah selesai. Tapi kita tidak bisa mengungkapkan (hasilnya), karena itu kewenangan penyidik," kata Kepala RS Polri Brigjen Polisi Aidi Rawas, di rumah sakit itu, Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (11/8/2009).

Aidi menjelaskan saat ini masih dilakukan uji DNA terhadap jenazah para teroris itu. Menurutnya pembanding untuk uji itu telah ada.

"Sekarang sedang dilaksanakan, bahan pembandingnya sudah ada," katanya.

Saat ini masih tiga jenazah tersangka teroris yang tersimpan di RS Polri. Mereka adalah Air Setiawan dan Eko Joko Sarjono (Eko Peyang) dan seorang jenazah yang tewas ditembak di Temanggung.

Jenazah yang tewas di Temanggung ini awalnya diduga Noordin M Top. Namun belakangan kematian Noordin diragukan banyak pihak.

Juru bicara keluarga Noordin di Malaysia, Badarudin Ismail mengaku pihak keluarga telah mendapat laporan dari polisi bahwa jenazah tersebut bukan Noordin. Diinformasikan jenazah itu diduga antara Ibrohim atau Reno.

(nal/iy)
Selasa, 11/08/2009 13:31 WIB
Penggerebekan Teroris
Kapolri & Panglima TNI Lapor SBY di Istana Negara
Anwar Khumaini - detikNews

Jakarta - Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri dan Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso menghadap Presiden SBY di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat.

Kedua jenderal itu diduga akan melaporkan perkembangan terbaru pasca penggerebekan teroris di Bekasi dan Temanggung, Jawa Tengah.

Kapolri tiba di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat sekitar pukul 13.10 WIB, Selasa (11/8/2009). Dia ditemani ajudan dan pengawal pribadinya. Sedangkan Panglima TNI datang lebih dulu.

Tidak seperti biasanya SBY menerima Kapolri dan Panglima TNI di Istana Negara. Padahal SBY biasa menerima para menteri dan pejabat tinggi negara lain di Kantor Presiden.

Kedatangan Kapolri dan Panglima TNI ini juga tidak dijadwalkan. Biro Pers dan Media Presiden tidak memberikan jadwal kedatangan Kapolri.

Hingga pukul 13.20 WIB Kapolri dan Panglima TNI masih melakukan pertemuan tertutup dengan SBY.

SBY sendiri tiba di Istana Presiden sekitar pukul 12.00 WIB dari kediaman pribadinya di Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat. SBY tiba bersama Ibu Ani Yudhoyono. (nik/nrl)
Selasa, 11/08/2009 13:38 WIB
Bom Marriott & Ritz-Carlton
Dani: Islam Sudah Hancur, Harus Dibela dengan Jihad
Anwar Hidayat - detikNews

dok detikcom
Bogor - Di mata Dani Dwi Permana, pemuda yang disebut Polri sebagai pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriott, agama Islam saat ini sedang dilanda kehancuran. Karena itu, Dani ingin membela Islam dengan jalan berjihad.

Hal tersebut diungkapkan Dani kepada Muhammad Ali, teman dekatnya saat masih bersekolah di SMA Yadika 7, Jl Kemang, Kabupaten, Bogor, Jawa Barat. Mereka berdua sama-sama aktif di organisasi ekstrakurikuler Rohani Islam (Rohis).

"Belakangan Dani sering mengajak jihad. Terakhir Dani bilang Islam itu sudah hancur sekarang, dan kita harus membelanya dengan jihad," cerita Ali tentang ajakan jihad Dani ketika menjelang kelulusan sekolah. Ali menceritakan hal itu saat ditemui di rumahnya, Kampung Jati, Parung, Bogor, Selasa (11/8/2009).

Menurut Ali, dirinya hanya menganggap enteng omongan Dani saat itu. Dia menilai, Dani tidak akan pernah serius dengan kata-katanya itu. "Saya cuma ketawa ketika Dani bilang mau ngajak jihad," tutur Ali.

Di mata Ali, Dani adalah kawan yang baik dan cerdas. Meski sama-sama pernah menjabat sebagai ketua Rohis SMA Yadika 7, Ali mengakui, pengetahuan agama Islamnya masih di bawah Dani.

"Dani itu lebih tahu dan hapal sejarah-sejarah Islam daripada saya," tutur Ali.

Masih menurut Ali, aktivitas Dani di Rohis sempat mengendur setelah tak menjadi ketua Rohis. Namun menjelang kelulusan, Dani kembali aktif lagi.

"Salat sunahnya lebih rajin. Kita sering ketemu kalau sedang melaksanakan salat Dhuha di musala sekolah," ungkap Ali.
(djo/djo)
Selasa, 11/08/2009 13:40 WIB
Penggerebakan di Temanggung
Istri Aris Cari Bantuan Hukum TPM ke Solo
Parwito - detikNews

Reuters
Tumenggung - Indrayati, istri Aris (tersangka teroris yang ditangkap di Temanggung), berusaha mencari bantuan hukum hingga ke Solo. Ia berharap Tim Pembela Muslim (TPM) yang berkantor di sana, bisa membantu suaminya.

"Sejak semalam sudah berangkat ke Solo untuk meminta bantuan upaya hukum," kata ayah Aris, Utomo, kepada wartawan di rumahnya, di Desa Kedu, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Selasa (11/8/2009).

Langkah Indaryati dilakukan karena ia mendengar kabar bahwa TPM berkantor di Solo. Menurut Utomo, ia pergi ke lokasi tersebut bersama temannya.

Utomo berharap, TPM bisa segera membantu anaknya untuk dibebaskan. Ia merasa Aris tidak bersalah, apalagi dituduh menjadi teroris.

"Sebagai ayahnya saya berharap bisa bertemu dengan Tim Pembela Muslim supaya bisa mengembalikan Aris yang dibawa Densus 88 dari Temanggung," jelasnya.

Aris dan Indra ditangkap di Temanggung karena dituduh menyembunyikan seseorang yang diduga Noordin M Top di kediaman paman mereka, Djahri. Keduanya saat ini sudah ditahan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, untuk dimintai keterangan.

(mad/nrl)
Selasa, 11/08/2009 13:55 WIB
Noordin Anak ke-13 Dari Keluarga Moch Top
Ken Yunita - detikNews

Jakarta - Noordin M Top, menjadi orang paling dicari setelah sejumlah aksi pengemboman di Indonesia sejak 2002. Asal usul pria berbadan besar itu juga banyak dicari.

Menurut juru bicara keluarga di Malaysia, Badarudin Ismail, seperti banyak diberitakan, Noordin memang lahir di Kluang Johor, 11 Agustus 1969 silam. M Top di belakang nama Noordin berasal dari ayahnya Moch Top.

"Ayahnya itu bernama Moch Top sudah meninggal lama," kata Badarudin saat berbincang dengan detikcom, Selasa (11/8/2009).

Menurut Badarudin, Noordin adalah anak bungsu dari 13 bersaudara. Saat ini, kakak-kakak Noordin tinggal di berbagai penjuru Malaysia.

"Dia itu anak terkecil dari 13, kakak-kakaknya ada yang di Johor, ada yang di Kuala Lumpur. Namanya cari makan kan berpencar-pencar," kata Badarudin sambil tertawa.

Saat ini, baik keluarga Noordin maupun istrinya, Rahma menjadi sorotan baik masyarakat Indonesia ataupun Malaysia. Menurut Badarudin, keluarga pria yang dituduh gembong teroris paling dicari itu ketakutan.

"Mereka itu takut kalau ngomong, karena mereka juga tidak tahu kabar Noordin sejak bertahun-tahun," katanya.

Namun, istri Noordin mengaku tidak keberatan untuk membantu polisi untuk kasus suaminya. "Mereka akan bantu semampu mereka," kata Badarudin.

Sebelum menghilang, Noordin mendapat gelar sarjana dari University Teknologi Malaysia (UTM). Noordin mulai mengenal gerakan Jamaah Islamiyah (JI) saat mengajar di Ponpes Luqmanul Hakiem di Johor.

Saat Malaysia melakukan penggerebekan besar-besaran pada anggota JI pasca serangan WTC 11 September 2001 , Noordin dan sahabatnya yang dikenal sebagai ahli bom, Dr Azahari, kabur ke Indonesia. Saat itu, Noordin juga membawa istrinya, Rahma.

Setelah itu, Noordin menghilang sembari mematangkan plot terornya. Belakangan dia diketahui menikahi Munfiatun di Pasuruan pada 2004. Setelah itu Noordin menghilang lagi dan disebut-sebut menikahi Arina, warga Cilacap.

Di jaringan JI, Noordin dikenal sebagai perekrut ulung dan pendanaan. Bersama Dr Azahari, Noordin disebut sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas sejumlah peledakan di Indonesia sejak 2002 silam. (ken/iy)

Tidak ada komentar: