Sabtu, 15 Agustus 2009

Selasa, 11/08/2009 14:15 WIB
SBY Tak Akan Kurangi Aktivitas
Panglima TNI: Kita Tak Perlu Takut dengan Teroris
Anwar Khumaini - detikNews

reuters
Jakarta - Presiden SBY tetap akan beraktivitas seperti biasa meski menjadi target teroris. Terorisme tidak perlu ditakuti, apalagi sampai harus mengganggu kegiatan SBY. "Tidak, kita tidak perlu takut dengan teroris," ujar Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Selasa (11/8/2009).

Panglima TNI mengatakan itu saat ditanya wartawan apakah ada anjuran agar kegiatan luar SBY akan dikurangi.

Meski demikian, menurut Panglima, pengamanan terhadap SBY tetap ditingkatkan. Pengamanan dilakukan di Istana dan di kediaman SBY, di Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat.

Panglima memastikan, Paspampres tidak akan ditambah melainkan ditingkatkan untuk mengamankan SBY. "Kita tambah (kinerjanya), karena ini memang kebutuhan saat ini," tegas Panglima yang mengaku kedatangannya ke Istana Negara untuk mengecek kinerja Paspampres.

Panglima menilai, sejauh ini kerja Paspampres sudah baik. Pengecekan kerja Paspampres dilakukan saat SBY tiba dari Cikeas ke Istana.

"Hasilnya baik tapi selalu ada peningkatan dan perbaikan sistem ataupun peralatan," ungkap Panglima sambil mengaku pengamanan yang dilakukan hanya pengamanan rutin.

Apakah dengan kondisi ini teroris menang karena telah berhasil melakukan ketidakstabilan keamanan? "Saya sebagai Panglima TNI tidak berpendapat seperti itu," kata dia. (nik/iy)
Selasa, 11/08/2009 14:22 WIB
Ditinggal 8 Tahun, Rahma Tidak Ingin Cerai Noordin M Top
Ken Yunita - detikNews

Jakarta - Siti Rahma bisa jadi seorang perempuan yang kuat. Meski telah ditinggalkan begitu saja sejak tahun 2002, perempuan yang akrab disapa Rahma itu tetap setia kepada Noordin M Top.

Hingga tahun 2009, Rahma masih menjadi istri sah Noordin. Dia tidak mengajukan gugatan cerai kepada suaminya yang sudah hampir 8 tahun tidak ditemuinya itu.

"Sampai sekarang dia masih istri Noordin, tidak ingin bercerai," kata juru bicara keluarga Noordin, Badarudin Ismail dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (10/11/2009).

Rahma memang sempat bersedih dengan sejumlah pemberitaan yang ditujukan kepada suaminya itu. Apalagi, anak-anaknya juga selalu bersedih dan bertanya di mana ayahnya.

Namun kini, Rahma sudah dapat menerima apa yang terjadi. Dia berharap, kasus suaminya dapat segera selesai. "Dia menerima apa yang berlaku, dia sudah pasrah," kata Badarudin.

Saat ini, Rahma dan ketiga anaknya tinggal di rumah orang tuanya, Rusdi Hamid di Kampung Sg Tiram, Johor Baru, Malaysia. Untuk menghidupi kebutuhan tiga anaknya yang masih kecil-kecil, Rahma mengajar mengaji di dekat rumahnya.

Seperti dilansir media asing, The Star, kehidupan Rahma pasca ditinggal Noordin sungguh memprihatinkan. Selain masalah ekonomi, keadaan psikologis Rahma juga sempat terganggu. Namun rupanya Rahma bisa bangkit dan membangun hidupnya kembali.

Setelah meninggalkan keluarganya, Noordin diduga bersembunyi di Indonesia. Selama berpindah-pindah, Noordin dikabarkan telah menikahi sejumlah perempuan. Salah satu istri Noordin adalah Munfiatun, perempuan asal Jepara.

Akhir-akhir ini, Noordin juga dikabarkan menikahi perempuan bernama Arina. Namun kepada Arina, Noordin mengaku bernama Abdul Halim.

(ken/iy)
Selasa, 11/08/2009 14:30 WIB
Penggerebekan di Jatiasih
Jenazah Diduga Bukan Noordin, Pengamanan Bekasi Ekstra Ketat
Chazizah Gusnita - detikNews

Jakarta - Pengamanan di Bekasi dilakukan ekstra ketat setelah penggerebekan teroris di Jatiasih. Apalagi Noordin M Top yang sempat singgah di kota itu diduga tidak tewas dalam penyergapan teroris di Temanggung, Jawa Tengah.

"Yang jelas Bekasi nggak ada masalah. Kita jaga super ekstra ketat. Apalagi di sekitar lokasi," kata Kapolres Metro Bekasi Kombes Pol Mas Guntur Laupe kepada detikcom, Selasa (11/8/2009).

Menurut Guntur, patroli di sekitar TKP penggerebekan sudah dilakukan. 30 Personel dikerahkan untuk pengamanan lokasi. Walikota Bekasi juga akan memanggil seluruh lurah di Bekasi pada Kamis (13/8/2009) mendatang.

"Sudah diundang ketua RW, RT, dan lurah. Kira-kira ada yang mencurigakan nggak" jelasnya.

Mas Guntur mengatakan, setiap hari Polres Bekasi mengerahkan 120 personel untuk patroli di wilayah Bekasi. "Jadi kita juga ada patroli dan operasi. Mereka bergantian pada jam-jam tertentu," tegasnya.

(gus/iy)
Selasa, 11/08/2009 15:10 WIB
Bom Marriott dan Ritz-Carlton
Dikirimi Rp 1 Miliar, SJ Pinjam Rekening Warga
Gagah Wijoseno, Arifin Asydhad - detikNews

Rumah yang Dikontrak SJ (foto: detikcom)
Jakarta - Menghilangnya Saifuddin Jaelani (SJ) dari Perumahan Telaga Kahuripan, Kemang, Kabupaten Bogor, menyisakan misteri yang luar biasa banyak. Cerita dari mulut ke mulut menyebar. Bahkan, ada cerita SJ pernah dikirimi uang sebesar Rp 1 miliar.

Cerita ini sudah bukan rahasia lagi bagi warga di perumahan yang terletak di Desa Tegal Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor itu. Cerita ini muncul ke publik setelah polisi mengaku tengah memburu tersangka bom Marriott dan Ritz-Carlton berinisial SJ.

SJ yang dimaksud polisi diduga Saifuddin Jaelani, seorang ustad yang tinggal di Gugus Candraloka, Perumahan Telaga Kahuripan, Kabupaten Bogor selama kurang lebih 1 tahun. Pria beristri dan beranak satu dan berusia 32 tahun itu datang ke perumahan itu pada akhir 2007. Dan sekitar 3-4 bulan lalu, SJ tiba-tiba menghilang tanpa pesan.

Menghilangnya ustad berperawakan tinggi dan pandai bergaul itu jelas membuat warga bertanya-tanya. Ke mana dia? Apa yang dia lakukan kok menjadi buron kasus peledakan bom di Marriott dan Ritz-Carlton? Apa benar dia yang membuat Dani Dwi Permana, seorang remaja masjid di perumahan itu, berani melakukan bom bunuh diri?

Masih banyak pertanyaan yang muncul di benak warga. Di tengah banyaknya pertanyaan itu, ternyata warga baru sadar bahwa ada sejumlah keganjilan pada diri SJ. Salah satunya, mengenai transfer uang Rp 1 miliar yang ditujukan kepada SJ.

Yang membuat aneh, dikirimi uang sebanyak itu, namun SJ tidak punya rekening. SJ meminjam rekening kepada salah seorang warga yang cukup dekat degannya. Rekening itu sebenarnya sudah lama tak diaktifkan oleh si empunya alias tidak pernah diisi atau digunakan untuk transaksi.

"Kaget juga, kok banyak sekali uang yang dikirim. Ada yang bilang Rp 500 juta, ada juga yang bilang Rp 1 miliar. Tapi, ya tetap banyak. Untuk apa uang itu?" kata salah seorang warga, Selasa (11/8/2009).

Saat itu, si empunya rekening tidak menaruh curiga, karena sikap SJ memang luar biasa bisa menyihir warga setempat. SJ dikenal sebagai ustad yang hafal Al Quran, bacaan Al Qurannya bagus, bisa bergaul dengan warga setempat, dan aktif di kegiatan masyarakat.

Kiriman uang Rp 1 miliar itu memang mencurigakan, karena uang itu terlalu banyak bagi seorang pengontrak rumah bertipe 36. Lagi pula, dia sehari-hari hanya berbisnis obat-obatan herbal dan ahli bekam.

Meski menjadi cerita dari mulu ke mulut, cerita ini bisa saja tidak benar. Namun, kabarnya Densus 88 sudah menelusuri temuan ini. Bila benar ada kiriman uang Rp 1 miliar, bisa jadi hal ini menjadi salah satu pintu masuk bagi polisi untuk menelusuri sumber dana jaringan pelaku bom Marriott dan Ritz-Carlton.

(asy/nrl)
Selasa, 11/08/2009 16:34 WIB
Perburuan Teroris
Kapolri Imbau Stasiun TV Jangan Ganggu Penyidikan
Didit Tri Kertapati - detikNews

Jakarta - Sejumlah stasiun televisi berlomba-lomba menayangkan penggerebekan teroris secara eksklusif. Bahkan foto-foto korban yang cukup mengerikan juga dipertontonkan.

Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri pun mengimbau seluruh stasiun televisi agar jangan sampai mengganggu proses penyidikan.

"Tadi pertemuan dengan Kapolri menjelaskan mengenai imbauan peliputan. Jangan sampai mengganggu peoses penyidikan," ujar Direktur Pemberitaan MetroTV Suryo Pratomo.

Hal itu disampaikan Suryo usai pertemuan sejumlah pimpinan stasiun televisi dengan Kapolri di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Selasa (11/8/2009).

Dalam pertemuan itu, polisi dan pimpinan TV setuju membangun aturan baru terkait penayangan penyergapan terorisme. Polisi menyebutkan penayangan harus sesuai aturan KPI No 3 tahun 2007 pasal 30 dan 31 tentang adegan kekerasan tidak boleh disajikan secara eksplisit.

Pihak TV sepakat mengikuti aturan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). "Kita bangun aturan baru. Menurut KPI, untuk hal itu korban kekerasan tidak boleh ditampilkan," kata Suryo.

Menurut Suryo, polisi tidak mendikte penayangan TV dalam pertemuan tersebut. Polisi dinilai memberikan penjelasan secara fair. "Tidak ada (dikte)," jelas bos MetroTV itu.

Tidak ada pembahasan mengenai kaburnya salah satu tersangka teroris di Solo akibat pemberitaan media. (gus/iy)

Selasa, 11/08/2009 16:45 WIB
Mabes Polri Beberkan Tewas Tidaknya Noordin Rabu
Didit Tri Kertapati - detikNews

Jakarta - Mabes Polri akan membeberkan identitas jenazah yang tewas dalam penyerbuan di Temanggung, Jawa Tengah, Rabu (12/8/2009) besok. Identitas jenazah yang diduga Noordin M Top ini masih simpang siur.

"Besok rekan-rekan ditunggu pukul 09.00 WIB di RS Polri Kramat Jati. Kita akan umumkan siapa yang bersangkutan itu," kata Kadiv humas Mabes Polri Irjen Pol Nanan Soekarna di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan, Selasa (11/8/2009).

Selain itu, lajut Nanan, polisi juga akan menyerahkan jenazah tersebut kepada keluarganya. "Besok akan dijelaskan hasil indentifikasi dan tes DNA," katanya.

Namun Nanan menolak menyebutkan identitas jenazah tersebut. "Besok baru tahu setelah dokter menuntaskan. Kedokteran bilang besok pagi baru selesai," katanya.

Saat ini masih tiga jenazah tersangka teroris yang tersimpan di RS Polri. Mereka adalah Air Setiawan dan Eko Joko Sarjono (Eko Peyang) dan seorang jenazah yang tewas ditembak di Temanggung.

Jenazah yang tewas di Temanggung ini awalnya diduga Noordin M Top. Namun belakangan kematian Noordin diragukan banyak pihak.

(nal/iy)
Selasa, 11/08/2009 16:47 WIB
Jejak SJ di Kahuripan
Kisah Protes Salawat dan Diulangnya Salat Idul Adha
Arifin Asydhad, Gagah Wijoseno - detikNews

Jakarta - Saifuddin Jaelani (SJ) memang dikenal sebagai ustad yang memiliki ilmu tinggi. Namun, dia pernah diprotes saat menjadi khotib salat Jumat. Gara-gara ketelitian SJ, salat Idul Adha di Masjid Raya Telaga Kahuripan juga harus diulang.

Selain menjadi imam di Masjid As Surur di gugus Candraloka, SJ juga diminta menjadi khatib di Masjid Raya Telaga Kahuripan. Dia juga pernah diminta menjadi penceramah di Masjid At Taubah Taman Ganesha.

Suatu siang di hari Jumat pada 2008 lalu, SJ kebagian giliran menjadi khotib salat Jumat. Seperti biasa dengan khotib lain, setelah mengucapkan salam dan puji-pujian bagi Allah, SJ pun mengucapkan salawat.

"Salawat ini termasuk rukun khutbah. Namun, saat itu SJ mengucapkan salawat tidak seperti lafal biasanya. Jadinya membuat ramai jamaah," kata salah seorang jamaah Masjid Raya Telaga Kahuripan kepada detikcom, Selasa (11/8/2009).

Biasanya bunyi salawat adalah sebagai berikut: Allahumma salli ala Muhammad wa ala alihi wasahbihi ajmain. Namun, SJ saat mengucapkan: 'Allahumma salli ala nabiyyil akhiril zaman'.

Salawat SJ ini cukup membuat geger jamaah. Karena, pada saat itu, ada sejumlah jamaah yang kemudian salat Jumat sendiri, karena tidak yakin bahwa ibadah salat Jumat yang dia lakukan sah.

"Namun, akhirnya geger soal salawat ini bisa diredam. Sejumlah ustad mendatangi rumah SJ untuk klarifikasi. Dan SJ saat itu menyampaikan bahwa dari sisi arti, salawat yang ia sampaikan itu sama. SJ pun meminta maaf. Perkara selesai," ujar dia.

Beberapa hari setelah itu, tibalah Hari Idul Adha 1429 H. Salat Idul Adha sekompleks Telaga Kahuripan disatukan di Masjid Raya Telaga Kahuripan. Kebetulan saat itu, Ketua Yayasan Masjid Raya Telaga Kahuripan Ustad Yusnar menjadi imam salat.

Nah, saat rakaat kedua, Ustad Yunar lupa membaca surat Al Fatihah. Ada beberapa jamaah di shaf bagian depan mengingatkan, namun Ustad Yusnar tidak mendengar. Akhirnya, salat tetap berlanjut hingga salam. Setelah itu, khotib yang didatangkan dari Pondok Pesantren di Parung naik mimbar. Khotib pun memulai khutbah.

Di sinilah peran SJ. Dia kemudian memberitahu kepada takmir masjid bahwa salat Idul Adha yang baru saja dilakukan tidak menggunakan Al Fatihah di rakaat kedua. Menurut SJ, salat tanpa Al Fatihah tidak sah, sehingga harus diulang.

Lantas takmir memberitahu imam bahwa salat harus diulang karena tidak ada bacaan Al Fatihah pada rakaat kedua. Imam setuju dan khotib pun turun mimbar. Imam kemudian memimpin salat Idul Adha untuk kedua kalinya. "Ini sejarah baru di Kahuripan, baru kali ini ada salat Idul Adha diulang," kata seorang warga yang tinggal di Kahuripan sejak tahun 2000.

Begitulah salah satu jejak SJ. Di Kahuripan, dia kenal sebagai penceramah yang handal. Ceramahnya datar-datar saja, tidak menggebu-gebu. "SJ bahkan pernah disandingkan dengan seorang ustad yang sangat jago di sini. SJ bisa mengimbangi," kata seorang jamaah lainnya.

Namun, kesan terhadap SJ yang begitu memesona sirna begitu saja setelah seorang pria berinisial SJ diburu polisi karena terlibat kasus bom Marriott dan Ritz-Carlton. SJ disebut Kapolri sebagai perekrut Dani Dwi Permana, pelaku bom bunuh diri di JW Marriott. SJ yang dimaksud, adalah Saifuddin Jaelani, yang dekat dengaDani, remaja berusia 18 tahun.
(asy/nrl)
Selasa, 11/08/2009 16:54 WIB
Cari Teroris, Densus 88 Sempat Obok-obok Yogya
Bagus Kurniawan - detikNews

dok detikcom (reuters)
Jakarta - Pasca penangkapan teroris di Kedu, Temanggung, Densus 88 sempat mengobok-obok wilayah Yogyakarta. Wilayah yang didatangi adalah di kawasan Desa Srimulyo, Kecamatan Piyungan Bantul, dan Desa Gayamharjo, Kecamatan Prambanan Sleman yang berbatasan dengan Kecamatan Prambanan, Klaten Jawa Tengah.

Namun hingga hari ini, Selasa (11/8/2009) tidak ada yang mengetahui, siapa yang ditangkap oleh aparat di wilayah itu. Di dua wilayah itu, tidak ada satupun warga yang mengaku kehilangan salah satu anggota keluarganya.

Saat detikcom bersama sejumlah wartawan mendatangi wilayah Srimartani Kecamatan Piyungan Bantul yang berbatasan dengan Desa Wukirharjo Kecamatan Prambanan Sleman, pada hari Senin (10/8/2009) sekitar pukul 00.30 WIB sempat terdengar seperti bunyi letusan dari arah timur di kawasan perbukitan sebanyak dua kali. Namun tidak banyak warga yang mengetahui dan sampai sekarang belum ada laporan warga yang kehilangan anggota keluarganya.

Demikian pula di sekitar Desa Gayamharjo, Prambanan Sleman hingga Dusun Watugajah, tidak ada warga yang hilang. Di kawasan itu merupakan daerah berbukit kapur dengan jarak rumah penduduk satu dengan yang lain yang berjauhan dan merupakan daerah yang kekurangan air saat musim kemarau.

Akibat kabar tersebut, perangkat desa setempat sempat didatangi oleh anggota Polsek dan Koramil setempat maupun para wartawan. Penelusuran dilakukan hingga Dusun Serut, Sampang dan Watugajah Prambanan Klaten juga tidak informasi mengenai adanya penangkapan pelaku terorisme di tempat itu.

"Di sini memang ada pondok pesantren, tapi santrinya juga sedikit jumlahnya hanya 15-an orang dan hanya warga sekitar saja. Sejak ada informasi itu kami selama dua hari terus didatangi petugas dan ditanya berbagai macam," kata salah seorang tokoh agama Prambanan Sonaji.

(bgs/djo)
Selasa, 11/08/2009 17:06 WIB
Komandan Paspampres Yakinkan Peringatan 17 Agustus di Istana Aman
Anwar Khumaini - detikNews

Jakarta - Para teroris membidik Istana Negara sebagai sasaran peledakan pada peringatan kemerdekaan 17 Agustus mendatang. Komandan Paspampres Mayjen Marciano Norman memastikan, Paspampres siap menjaga keamanan peringatan HUT RI ke-64 tersebut.

"Kita sebagai tuan rumah harus menjamin bahwa kegiatan itu aman. Tidak hanya Paspampres saja (yang bertanggung jawab), tadi anda lihat dari Kodam Jaya, Polda Metro Jaya, mereka juga laksanakan kegiatan itu secara optimal," ujar Marciano di Istana Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Selasa (11/8/2009).

Paspampres, menurut Marciano telah melakukan evaluasi menyeluruh terkait pengamanan terhadap presiden selama ini, terlebih pasca-ditangkapnya teroris di Temanggung serta ditemukannya bahan peledak yang diduga akan diledakkan di kediaman SBY di Cikeas. Hasil evaluasi tersebut dilaporkan ke Panglima TNI dan hasilnya Paspampres diminta untuk lebih mengoptimalkan kinerjanya.

"Dalam beberapa hari ke depan kita melakukan kegiatan yang besar, yaitu rangkaian kegiatan 17 Agustus di istana ini. Dan kita semua harus meyakinkan bahwa kegiatan ini bisa berjalan dengan lancar dan aman," jelasnya.

Selama ini, Paspampres menurut Marciano telah mempunyai standar pengamanan yang tetap, dan itu akan terus dipertahankan dengan tidak akan menguranginya dalam kondisi apa pun. "Tapi kita harus berpikir kondisi yang terburuk," imbuhnya.

Secara khusus, Panglima TNI telah memberi instruksi khusus, yakni semua peralatan yang ada supaya digunakan dengan seoptimal mungkin agar kemungkinan-kemungkinan terburuk bisa dihindari.

(anw/mad)
Selasa, 11/08/2009 17:11 WIB
Perburuan Teroris
Polri & KPI Harap Pola Pemberitaan Televisi Tak Mendramatisir
Didit Tri Kertapati - detikNews

Jakarta - Operasi perburuan teroris mendapat liputan luas dari media elektronik utamanya televisi. Mabes Polri dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) berharap stasiun televisi tidak mendramatisir situasi.

"Diharapkan pola pemberitaan bukan untuk mendramatisir. Tapi untuk memberikan pencerahan. Menjaga pemberitaan dalam proses upaya Kepolisian," kata Ketua KPI Sasa Djuarsa usai pertemuan sejumlah pimpinan stasiun televisi dengan Kapolri di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Selasa (11/8/2009).

Dilanjutkan Sasa, semua pihak yang hadir dalam pertemuan telah membangun kesepahaman bersama untuk bahu membahu menghadapi terorisme. Persoalan muncul apabila pola pemberitaan yang tersiar tidak menguntungkan upaya memerangi aksi kejam itu.

"Misalnya mengenai dugaan yang belum tentu benar yang membingungkan masyarakat," kata dia.

Sementara itu, Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Nanan Soekarna mengatakan, Polri dan KPI mengingatkan agar pengelola stasiun televisi kembali ke standar KPI dalam menayangkan berita mengenai terorisme.

"Polisi dengan KPI mengingatkan kepada media elektronik, televisi, tentang standar penayangan yang diatur sesuai dengan peraturan KPI," kata dia.

Menurut Nanan, Polri akan menindak anggotanya yang membocorkan informasi seputar penyidikan terorisme.

"Saya minta informasi siapa yang membocorkan. Ayo sama-sama kita tindak," pungkasnya.

(irw/nrl)
Selasa, 11/08/2009 17:45 WIB
Ibrohim Makin Santer Disebut Sebagai Teroris yang Tewas di Temanggung
E Mei Amelia R - detikNews

Jakarta - Makin kuat indikasi bahwa teroris yang digerebek dan diberondong peluru di Temanggung bukanlah Noordin M Top. Lantas siapa? Dua orang yang disebut-sebut: Reno alias Tedi atau Ibrohim. Tapi nama Ibrohim makin santer disebut.

Memang, hingga saat ini polisi masih tutup mulut. Kemungkinan teroris yang tewas adalah Reno atau Ibrohim juga masih sangat-sangat sumir. Kepastian siapa teroris yang tewas di Temanggung baru akan diumumkan Polri Rabu (12/8/2009).

Saat ditanya bahwa nama suaminya disebut-sebut sebagai orang yang ditembak polisi di Temanggung, istri Ibrohim, Suci Hani, hanya bisa menangis. "Kenapa suami saya ada di sana?" ujar dia saat dihubungi detikcom, Selasa (11/8/2009).

Keberadaan Ibrohim hingga kini memang masih misterius. Nama ayah 4 anak yang juga florist di sebuah flower shop di Hotel Ritz-Carlton ini diduga kuat masuk jaringan Noordin M Top.

Nama Ibrohim mencuat, karena diduga kuat dia yang membantu masuk, meloloskan bahan-bahan peledak sehingga para 'pengantin' atau pengebom bunuh diri bisa beraksi di JW Marriott dan di Ritz-Carlton pada 17 Juli 2009 lalu.

Pria 36 tahun ini berdasarkan pengakuan teman-temannya diketahui sempat meninggalkan wasiat dan mengajukan pengunduran diri sesaat sebelum bom meledak. Dia terlihat lari dengan membawa tas.

Ibrohim lahir di Jakarta pada 6 Mei 1972, memiliki badan tegap dan berkulit putih bersih. Selama bekerja di Jakarta dia tinggal di sebuah kontrakan bersama rekan-rekan kerjanya, sedang anak dan istrinya tinggal di Cilimus, Kuningan, Jawa Barat.

Ibrohim seperti disebutkan Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri adalah salah satu calon pengantin rekrutan Noordin. Banyak beredar kabar mengenai Ibrohim ini. Ada pihak yang menyebutkan dia ditangkap di Plaza FX Sudirman, saat membawa bahan peledak di hari naas bom meledak di kedua hotel tersebut.

4 Pria meringkus orang yang diduga Ibrohim itu, begitu sang florist melangkah masuk ke dalam mal. Tapi sumber resmi kepolisian menolak keterangan ini, Ibrohim masih diburu.

Jejak Ibrohim, kemudian sempat terlacak di Cilacap, Jawa Tengah, ponselnya terekam menghubungi nomor sebuah rumah di kota itu. Kemudian tidak lama, jejak Ibrohim sempat terendus di Garut, Jawa Barat. Isu beredar Ibrohim sebenarnya sedang dibawa untuk menunjukkan rekan-rekannya.

Pengamat intelijen Dynno Chressbon menyebut bila Ibrohim masuk jaringan Darul Islam, wilayah Jakarta. Dia berkolaborasi dengan kelompok Noordin M Top.

Ibrohim yang pernah tinggal di Cililitan, Jakarta Timur dan Depok ini, kemudian ditengarai sebagai pria yang tewas di Temanggung, Jawa Tengah. Juru bicara keluarga Noordin M Top di Malaysia, Badarudin Ismail mengaku mendapat informasi dari polisi yang menyatakan jenazah bukan Noordin. Jenazah itu diduga Ibrohim atau Reno. (ndr/iy)



Tidak ada komentar: